Alhamdulillah wasolatu wa salamu ‘ala rosulillah wa’ala alihi wa sohbihi wa man waa lah.
Amma ba’du:
Perkara yang tidak diragukan lagi bahwa berjihad dengan hujjah dan burhan dalam berdakwah, mengikhlaskan ibadah hanya untuk Alloh, membantah kesyirikan dan kesesatan dengan segala bentuknya, menghancurkan syubhat-syubhat dan melenyapkan fitnah syahwat, adalah amalan yang paling utama. Dengan demikian, maka bangkitlah para ahlul haq di setiap zaman dan tempat mengangkat bendera kebenaran sebagai pembela Agama Alloh, KitabNya, dan RosulNya, menjadi penasehat umat, merealisasikan firman Alloh:
Dia adalah Syaikh Muhammad bin Sholih bin Muhammad Al-Utsaimin Al-Wuhaibi At-Tamimi. Salah seorang anggota Hai’ah Kibarul Ulama di Kerajaan Saudi Arabia. Dosen di cabang Universitas Al-Imam Muhammad Ibnu Sa’ud Al-Islamiyah di Qoshim. Imam dan Khotib di masjid besar kota Unaizah. Dia dilahirkan di Unaizah, tanggal 27 Romadhon 1347 Hijriyah.
Syaikh Muhammad bin Ibrohim Syaqroh hafizhahulloh berkata tentangnya, “Tidak pernah terdengar dari Ibnu Utsaimin rohimahulloh bahwa dia suka keluar dari Jazirah Arab dan mengunjungi daerah lain. Disebutkan darinya bahwa yang paling berhak akan ilmunya adalah penduduk negerinya sendiri. Pernyataan ini benar dan tidak seorangpun yang membantahnya dan tidak ada alasan yang lebih tepat dari itu. Ada sebuah riwayat yang shohih dari Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam tentang nafkah, dia bersabda:
“Mulailah dengan dirimu. Bersedekahlah untuknya. Jika berlebih, untuk keluargamu. Jika untuk keluargamu berlebih, untuk kerabatmu. Jika untuk kerabatmu berlebih, untuk seterusnya dan seterusnya…” (Al-Irwa’, 833; Musykilatul Faqri, I/51; Ma’a Robbaniyin Ar-Rohalin, 18)
Walid Al-Husain hafizhahulloh –salah seorang muridnya- menulis riwayat hidup Asy-Syaikh dengan ringkas, disebutkan:
Pembaca, setiap orang pasti pernah mengalami masa-masa sulit. Bila Anda saat ini sedang mendapat kesulitan, maka bersyukurlah! Karena berarti sekarang Alloh menginginkan Anda untuk lebih dewasa, lebih bijak, lebih kuat, dan lebih tangguh. Kita tahu bahwa kesulitan-kesulitan hidup itu memang harus selalu ada. Kesulitan merupakan “bumbu penyedap” kehidupan ini. Tanpa kesulitan-kesulitan, hidup ini tentu akan benar-benar membosankan, dan suatu kebosanan yang tidak akan tertahankan. Mengatasi kesulitan adalah satu-satunya kepuasan yang dihadiahkan bagi manusia. Maka bila Anda sedang mengalami kesulitan hidup, sambutlah dengan gembira. Caranya, ucapkan “selamat datang” pada kesulitan, dan segera cari jalan keluarnya!
Percayalah, Anda adalah orang yang terpilih. Orang yang dipilih Alloh untuk mengemban “tugas” kecil itu. Jadikan kesulitan itu sebagai guru Anda. Ambillah hikmah dari semua kesulitan yang Anda hadapi. Jangan malah mengeluh dan menggerutu. Membuang-buang waktu dan energi dengan mengeluh dan menggerutu adalah sebuah tindakan bodoh dan sia-sia.
Ada kelompok manusia yang berlebihan dalam menolak takdir. Mereka menyatakan bahwa Alloh tidak menakdirkan perbuatan seorang hamba. Hamba berbuat dengan pilihan dan kemampuan sendiri tanpa terikat dengan takdir Alloh. Di antara mereka ada yang sampai menafikan ilmu Alloh terkait apa yang akan terjadi dan di antaranya mengimaninya. Mereka di masa sekarang adalah yang menetapkan ilmu Alloh, tetapi menolak takdir Alloh pada para hamba-Nya. Merekalah yang disebut Qodariyah.
Kepada mereka para pengingkar takdir tersebut (Qodariyah), kami katakan, tidakkah kalian ketahui bahwa takdir merupakan salah satu rukun iman? Pengingkaran kepada takdir berarti mencacati salah satu rukun iman. Seseorang yang rukun imannya cacat, tidak sempurna, tidak lengkap, maka dia bukanlah orang yang beriman.
Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Agama adalah nasihat”. “Bagi siapa, ya Rosululloh?” tanya para shohabat. Beliau menjawab, “Bagi Alloh, Rosul-Nya, Kitab-Nya, bagi para pemimpin Islam, dan bagi kaum muslimin umumnya.” (HR. Tirmidzi)
Pembaca, saya berharap Anda semua mau menerima nasihat dalam bentuk apa pun dan dari mana pun datangnya. Mampukah Anda melakukannya? Maukah Anda meng-iya-kan seseorang yang menunjukkan “aib” dan menceramahi Anda agar menjauhinya? Percayalah, bila Anda menerima dengan lapang, orang lain dengan mudah menerima ujaran-ujaran Anda dan tidak akan membantah.
Kepada kaum yang tidak disukai, yang Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda tentangnya: “Akan ada di kalangan umat ini, suatu kaum yang kelewat batas dalam bersuci dan berdoa” (HR. Abu Dawud), yaitu yang berdoa dengan berteriak-teriak dan untuk sesuatu yang tidak layak. Belumkah sampai di telinga kalian firman Alloh: “Berdoalah kepada Robb-mu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”(Al-A’roof: 55) ?!
Kepada kaum yang “mabuk dzikir”, yang kurang puas dengan bacaan-bacaan dzikir yang telah dituntunkan oleh Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam, yaitu yang mengarang sholawat-sholawat baru, menambah-nambahi bacaan dzikir di tempat yang tidak semestinya, yang berdzikir sambil ditabuhi musik, dan yang berdzikir dengan berdiri menari-nari berputar-putar sempoyongan seperti orang kesurupan hingga mereka tidak ingat apa-apa. Tidakkah kalian ketahui, bahwa arti dzikir adalah ingat, dan dzikir itu adalah untuk mengingat Alloh?! Kalau kalian tahu, kenapa “puncak dzikir” versi kalian adalah ketika kalian berada di alam bawah sadar?!
Kepada kaum yang sesat, yang meyakini bahwa Alloh adalah panca indera dan organ tubuh manusia, yang percaya bahwa Alloh ada di mana-mana, yang beranggapan bahwa mereka adalah Alloh itu sendiri. Maha Suci Alloh dari apa yang kalian yakini! Ketahuilah, bahwa Alloh itu berada di atas langit, Dia bersemayam di atas ‘Arsy, dan bukan berada di tubuh-tubuh kalian!!!
Yang jelas, mereka yang HANYA, sekali lagi HANYA, mencari ilmu (syar’i) lewat buku-buku dan kaset-kaset rekaman dan TIDAK mau hadir di majelis-majelis taklim adalah orang-orang yang BANGKRUT alias RUGI.
Memang, salah satu kecenderungan “manusia modern” saat ini adalah efisiensi waktu, sehingga untuk memperoleh informasi –termasuk informasi agama- mereka tidak perlu capek-capek (bersusah payah) datang ke sebuah tempat-tempat pengajian.
Namun, model manusia muslim modern yang begini ini, yang meninggalkan dunia taklim dan HANYA mencukupkan diri dengan buku-buku dan kaset-kaset rekaman, sungguh ia benar-benar berada dalam kerugian yang teramat besar.
Dia adalah seorang imam, faqih, da’i besar, Abdul Aziz bin Abdulloh bin Abdurrohman Alu Baaz yang lahir di kota Riyadh pada tahun 1330 Hijriyah.
Dia mulai belajar dan menggali ilmu sejak kecil. Menghafal Al-Qur’an sebelum baligh. Dia belajar ilmu syariat dan bahasa Arab sejak masa kanak-kanak. Dia rajin dalam menuntut ilmu, sangat rajin, antusias, dan tidak pernah kendur semangatnya. Dia tidak pernah merasa bosan dan putus asa. Dia memerangi kesyirikan dalam bentuk apapun. Ber-amar ma’ruf nahi munkar. Dia adalah cerminan seorang da’i yang menyeru manusia kepada agama Alloh Subhanahu wa Ta’ala.
Dr. Nashir bin Musfir Az-Zahroni menyebutkan dalam kitabnya Imam Hadzal Ashr sekilas tentang Asy-Syaikh bin Baaz Rohimahulloh dalam tulisannya, dia berkata, “Syaikh Abdul Aziz bin Baaz suatu ketika bersedia menceritakan dengan mengimlakan tentang kehidupannya. Kemudian, aku membacakannya kembali di hadapannya dan dia membenarkannya.
Dia berkata, ‘Aku bernama Abdul Aziz bin Abdulloh bin Abdurrohman bin Muhammad bin Abdulloh Alu Baaz. Aku dilahirkan di kota Riyadh, bulan Dzulhijjah tahun 1330 Hijriyah. Pada mulanya aku bisa melihat, kemudian aku menderita sakit di mataku pada tahun 1346 Hijriyah, lalu pandanganku mulai kabur disebabkan sakit itu. Aku memohon kepada Alloh Jalla wa ‘Ala agar menggantinya dengan ilmu di dunia dan balasan yang baik di akhirat, sebagaimana yang Ia janjikan melalui lisan Nabi Muhammad Shollallohu ‘alaihi wasallam. Aku juga memohon kehidupan yang terpuji di dunia dan akhirat.
Inilah kisah tentang orang-orang yang sedang ngiler melihat dunia. Mereka adalah para aktivis partai “Islam” yang berlomba-lomba membual dan mengobral janji demi sebuah kursi kedudukan dengan dalih untuk memperjuangkan Islam. Berbagai cara dilakukan demi memperoleh suara sebanyak-banyaknya. Tak peduli walau harus pakai cara-cara harom sekalipun. Nyogok masyarakat melalui acara “bagi-bagi uang dan kaos” adalah salah satu aksinya.
Yah, begitulah kalau ambisi keduniawian telah mencapai klimaks-nya. Apapun dilakukan meski agama menjadi taruhannya. Benar kata Rosul, “Tidaklah dua ekor serigala yang lapar dilepas di tengah sekawanan kambing lebih merusak seseorang terhadap agamanya karena ambisinya untuk mendapatkan harta dan kedudukan.” [HR. Tirmidzi]
As-Sam’ani dalam Al-Ansab (3/273) mengatakan: “Salafi, dengan mem-fathah sin dan lam kemudian yang terakhir (meng-kasroh) fa’, adalah nisbah kepada Salaf, menganut ajaran madzhab mereka sebagaimana kamu dengar dari mereka.”
Imam As-Safarini mengatakan: “Yang dimaksud madzhab salaf ialah apa yang berjalan di atasnya para shohabat yang mulia, orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik (tabi’in), tabi’ut tabi’in, para imam Islam yang diakui keimaman mereka dan dikenal besar peranannya dalam Islam serta diterima ucapannya oleh kaum muslimin generasi demi generasi, bukan mereka yang tertuduh dengan kebid’ahan, atau dikenal dengan julukan yang tidak diridhoi, seperti khowarij, rofidhoh, qodariyah, murji’ah, jabriyah, jahmiyah, mu’tazilah, karromiyah dan sebagainya.”
Selain sebagai alat yang berperan penting untuk mewujudkan komunikasi yang baik antara manusia satu dengan yang lainnya, bahasa juga merupakan sebuah kunci untuk memahami suatu ilmu. Sebab, dengan bahasa kita akan mampu mempelajari sebuah literatur atau referensi dari sebuah ilmu yang kita butuhkan.
Sebagaimana kita ketahui bahwa ilmu yang wajib kita pelajari adalah ilmu syar’i (agama), dan sumber ilmu yang paling otentik adalah al-Qur’an dan Hadits ditambah dengan literatur para ulama yang berisi penjelasan dan pemaknaan dari kedua sumber tersebut. Berarti, untuk memahami itu semua, kita tentu harus mampu menguasai sebuah bahasa yang digunakan. Bahasa apakah itu?
Jalan dakwah adalah jalannya para Nabi dan Rosul Sholawatulloh ‘alaihim ajma’in, juga jalannya generasi terbaik umat ini dari kalangan Salafus Sholih Ridhwanullohi ‘alaihim ajma’in, juga jalannya para Imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah pada masanya. Tongkat estafet Dakwah Salafiyyah Ahlus Sunnah wal Jama’ah terus bergulir dari generasi ke generasi berikutnya, dari Rosul pertama Nabi Nuh ‘Alaihi Sallam hingga Rosul terakhir Muhammad Shollallohu ‘alaihi wasallam dan dari zaman beliau hingga zaman 3 generasi terbaik umat ini dan terus menerus berkesinambungan hingga zaman kita ini.
Apabila kita mencermati perjalanan dakwah para pendahulu kita, maka pelajaran penting dan berharga akan kita temukan, bahwasanya seorang da’i harus mempunyai persiapan dan bekal yang cukup matang, lahir dan batin, untuk menghadapi beban, gangguan dan rintangan dakwah yang senantiasa menghadangnya.
Ada fenomena kehidupan para wanita yang cukup “mengerikan” di masyarakat kita hari-hari ini, yaitu kejahilan mereka akan perkara agamanya. Ya, kejahilan wanita akan perkara agamanya memang merupakan fenomena mengerikan yang merebak di masyarakat kita dewasa ini. Sehingga mudah saja kita dapati wanita yang tidak tahu (atau tidak mau tahu?) bagaimana berpakaian yang baik dan benar sesuai syariat…tidak tahu bagaimana cara membersihkan najis…bagaimana cara wudlu yang benar…bagaimana tata cara sholat yang sesuai dengan tuntunan Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam… Lebih dari itu, bahkan tidak bisa membedakan antara tauhid dan syirik, sunnah dan bid’ah.
Yaa subhanalloh! Lalu bagaimana wanita yang jahil ini bisa mendidik generasi Robbani yang siap mengemban amanah Alloh di muka bumi? Bukankah “Ibu adalah madrosah bagi anak-anaknya”?
Secara “kodrati”, wanita itu memang -afwan- jahil. Ya jahil dari segi akalnya, ya jahil dalam agamanya. Hal itu berdasar pada haditsnya Abu Sa’id Al-Khudri berikut:
Sesungguhnya laki-laki yang melihat kepada wanitaSeperti binatang buas mengelilingi dagingApabila daging itu tidak dijaga dengan baikAkan dimakan tanpa ganti rugi dan harta
Tak dipungkiri bahwa fitnah pandangan mata merupakan fitnah (ujian) besar bagi manusia. Namun kebanyakan manusia malah bermudah-mudahan padanya, sehingga hampir-hampir menjerumuskan mereka ke dalam busuknya maksiat dan jerat fitnah. Berapa banyak pemuda yang dulunya taat, berbalik menjadi pecinta maksiat. Berapa banyak pemudi yang dulunya polos dan lugu, berbalik menjadi wanita penghamba nafsu. Dan berapa banyak manusia yang karenanya terjatuh dalam perzinaan dan perbuatan keji. Naudzu billah! Maka, tak ada jalan keselamatan kecuali dengan menahan atau menundukkannya.
Di zaman ini wanita-wanita yang berjalan berlenggak-lenggok mengenakan pakaian ketat lagi transparan hingga membentuk lekuk tubuhnya bahkan nyaris telanjang tampaknya sudah bukan lagi menjadi pemandangan yang asing. Pemandangan nggak halal kayak gitu tersedia gratis sepanjang hari dari pagi hingga malam dan di hampir setiap tempat, di jalan-jalan, mall, pasar, bahkan di kampus. Aku heran, kok mereka ndak malu ya auratnya kelihatan, pakai pakaian serba minim kayak gitu? Atau jangan-jangan sengaja lagi, auratnya dipamer-pamerkan. Hhiii…! Rasa malu yang menjadi salah satu ciri agama Islam yang paling jelas dari akhlak-akhlak mulia yang lain ini kayaknya sudah mereka tanggalkan. Amat disayangkan, karena jauhnya umat Islam dari agamanya dan enggannya mereka mempelajari agamanya menyebabkan mereka terjatuh dari kerendahan kepada kerendahan yang lain dan akan senantiasa jatuh sehingga benar-benar turun di kerak yang paling bawah. Malu adalah termasuk dari iman, apabila hilang rasa malu maka akan hilang bersamanya iman.
Akh Paiman, adalah blog seorang ikhwan salafi, Paiman bin Bandi al-Klateni...
Mutiara Salaf
Al-Imam Az-Zuhri rohimahulloh berkata: "Berpegang teguh dengan Sunnah adalah keselamatan."
Asmaul Husna
"Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma'ul husna itu..." [Al-A'roof: 180]
"Dialah ALLOH, tiada ilah yang berhak disembah melainkan Dia, Dia mempunyai al-asma'ul husna (nama-nama yang baik)." [Thoha:8]
Kampus Kecilku
Tempat Kuliah Orang Berdasi. Unggul dalam Trend Teknologi Informasi...
Kampanye
Say NO to DemoCRAZY!
Kalender Islam
Sistem kalender Hijriyah dihitung sejak peristiwa Hijroh-nya Rosululloh beserta para pengikutnya dari Makkah ke Madinah. Umar bin Khottab-lah yang meresmikan sistem kalender ini saat beliau menjabat sebagai kholifah...
Bentuk Bulan
Kalender Hijriyah atau Kalender Islam menggunakan sistem kalender lunar (Qomariyah)...
Mesin Pencari
Gsalaf.com adalah mesin pencarian alternatif untuk situs-situs salafi ahlussunnah wal jama'ah...