December 1, 2009
Mungkin, kita pernah atau sering merasa kecewa dan menyesal terhadap apa yang telah kita lakukan. Baik karena perbuatan itu sebuah dosa dan maksiat, atau sebuah kebiasaan buruk yang sejujurnya ingin kita hilangkan. Namun setiap kalinya, hal itu terus terulang, dan kita terus merasa kecewa dan bersalah. Pernahkah kita ingin sekali berhenti onani, masturbasi, merokok, ngupil, kentut sembarangan, makan berlebihan, menggigit jari-jari kuku, menunda pekerjaan atau mengulang perbuatan-perbuatan lainnya yang ingin kita hentikan? Alih-alih berhenti, keinginan untuk terus melakukannya mungkin malah semakin menguat.
Sebenarnya, tidak ada manusia yang terlahir dengan kondisi memiliki begitu banyak kebiasaan buruk dan kebiasaan-kebiasaan yang tidak efektif. Sebagaimana keahlian lain yang kita pelajari dalam masa pertumbuhan seperti berbicara, makan, dan berjalan, kebiasaan-kebiasaan buruk juga kita pelajari dengan mengamati dan meniru orang lain karena terlihat bagus atau baik. Sehingga kita merasa senang, tenang dan nyaman saat mengulanginya.
Dalam perkembangannnya, kebiasaan-kebiasaan yang sudah terbentuk, baik maupun buruk, mengulang akan terus dipraktikkan meski alasan untuk melakukan tidak ada lagi. Bahkan ketika tidak ada lagi model untuk ditiru dan mengajak melakukannya, atau ketika ia tidak lagi mendatangkan perasaan nyaman. Memang, saat melakukannya dulu, kita mendapat rasa nyaman dan tenang. Dan itu terekam dengan baik sebagai informasi di dalam otak kita. Sehingga setiap kali kita menghadapi situasi yang sama, otak kita menyarankan dan mendorong kita untuk melakukan tindakan-tindakan yang familiar bagi kita. Otak menginformasikan bahwa tindakan-tindakan itulah yang terbaik untuk dilakukan guna mengurangi ketidaknyamanan.
Pembaca, kita tentu tidak mau terus menerus berada dalam zona pengulangan kebiasaan buruk seperti itu, apalagi kalau kebiasaan buruk itu termasuk dosa dan maksiat. Nah, pertanyaannya sekarang adalah: Bagaimana cara mengatasi kebiasaan-kebiasaan buruk itu?
Read the rest of this entry »
Leave a Comment » |
Oase |
Permalink
Posted by akh paiman
November 16, 2009
Oleh : Syaikh Abdul Aziz bin Royyis Ar Royyis hafidzohullohu ta’ala
Yang kedua, dan di antara fenomena jafa’ (bentuk meremehkan) dalam masalah jihad adalah bahwasanya sebagian manusia ditimpa penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati) dan patah semangat, lemah serta rendah keinginan untuk mencapai cita-cita yang mulia. Maka mereka menjadi takut terhadap jihad dan mereka menyangka bahwa dengan jihad mereka akan kehilangan dunia mereka, sehingga mereka berkata, “ Wahai manusia janganlah kalian menyeru kepada jihad supaya kami tidak kehilangan dunia kami “.
Dan kita menolak ini, karena dengan jihad kita akan sampai pada kehidupan yang kekal yang terdapat di dalamnya apa-apa yang tidak pernah di lihat oleh mata, tidak pernah di dengar oleh telinga, tidak pula pernah terlintas di dalam hati manusia.
Dan telah berlalu ketika saya menyebutkan untuk kalian apa yang telah dikeluarkan oleh Imam Muslim dari hadits Abu huroiroh rodhiyallohu anhu bahwasanya Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,
من مات ولم يغزو ولم يحدث نفسه بالغزو مات على سعبة من النفاق
“Barang siapa mati dan belum sempat berjihad, dan tidak terlintas dalam jiwanya keinginan untuk berjihad maka ia mati di atas cabang dari kemunafikan”
Read the rest of this entry »
Leave a Comment » |
Kajian Utama |
Permalink
Posted by akh paiman
November 15, 2009
Oleh : Syaikh Abdul Aziz bin Royyis Ar Royyis hafidzohullohu ta’ala
Ikhwani (saudaraku), sesungguhnya telah terjadi pada kelompok-kelompok yang tidak sedikit, sikap jafa’ (meremehkan) di dalam masalah jihad dan terjadi pada sebagian kelompok yang lain sikap ghuluw (berlebih-lebihan) di dalam masalah ini. Adapun fenomene-fenomena jafa’ (meremehkan) jihad maka sangat banyak sekali, saya akan menyebutkan beberapa di antaranya secara ringkas :
Yang pertama dan ini sudah sangat tersebar di jaman ini, yaitu mengingkari adanya jihad tholab (menyerang duluan).
Kalian banyak mendengar dari orang-orang Ibrani, orang-orang sekuler, sebagian orang-orang Islam, sebagian orang-orang yang lemah agamanya, sebagian orang-orang bodoh, kalian banyak mendengar mereka entah itu di siaran-siaran, media yang tersebar atau di buletin-buletin atau di majalah-majalah atau di majelis-majelis, kalian mendengar mereka berkata sesungguhnya tidak dibenarkan memerangi musuh atau kita memulai memerangi musuh, sesungguhnya perang dan jihad di dalam syariat adalah jihad daf’i (perang mempertahankan diri).
Ini adalah kedustaan terhadap syariat Muhammad bin Abdulloh sholallohu ‘alaihi wasallam. Bahkan Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam berperang dan berjihad dengan dua bentuk jihad baik itu jihad daf’i ataupun jihad tholab.
Read the rest of this entry »
Leave a Comment » |
Kajian Utama |
Permalink
Posted by akh paiman
November 13, 2009
Anda tidak perlu heran dengan judul di atas. Itu kenyataan, bukan mengada-ada. Ketika berada di surga nanti sebagian para penghuninya memang benar-benar akan menyesal. Menyesal? Bukankah para penghuni surga itu ketika di dunia mengisi hidupnya untuk beribadah dan taat kepada Alloh? Dan bukankah di dalam surga itu terdapat kenikmatan yang tiada tara, sebuah kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga dan belum pernah terbetik di dalam hati umat manusia? Kenapa mereka menyesal?
Baik, jawaban untuk pertanyaan di atas terdapat pada hadits berikut ini:
Rosululloh shollallohu ‘alahi wasallam bersabda: “Tidak ada sesuatu yang lebih disesali oleh para penghuni surga selain atas satu saat yang pernah mereka lalui di dunia, yang tidak mereka gunakan untuk mengingat Alloh.” (HR. Ath-Thobroni, dishohihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani Rohimahulloh. Lihat: Shohih Jami’ Shoghir no. 5322)
Read the rest of this entry »
1 Comment |
Hadits |
Permalink
Posted by akh paiman
November 9, 2009
Oleh : Syaikh Abdul Aziz bin Royyis Ar Royyis hafidzohullohu ta’ala
Kemudian ketahuilah wahai ikhwani bahwasanya jihad terhadap jiwa adalah murodun lidzatihi (dimaksudkan untuk dirinya, tidak dimaksudkan untuk tujuan lain), adapun jihad terhadap musuh dengan perang maka murodun lighoirihi (dimaksudkan untuk tujuan lain) yaitu dimaksudkan untuk meninggikan kalimat Alloh. Dan sesuatu yang dimaksudkan untuk dirinya (murodun lidzatih) maka ia lebih didahulukan daripada sesuatu yang dimaksudkan untuk tujuan lain (murodun lighoirih).
Fase-fase Jihad fi Sabilillah
Setelah ini wahai ikhwan yang dimaksud jihad di dalam pembahasan dan pelajaran kita adalah jihad terhadap musuh dan memerangi musuh. Dan jihad ini yaitu jihad memerangi musuh sungguh telah melewati beberapa fase, lewatnya jihad di dalam fase-fase ini memiliki manfaat yang sangat agung, yaitu agar kita mengetahui kapan jihad itu disyariatkan dan kapan tidak disyariatkan, sehingga kita bisa melihat pada fase yang jihad disyariatkan pada fase tersebut, apabila kita hidup pada fase tersebut maka kita melaksanakan jihad yaitu jihad terhadap musuh/perang, tapi apabila kita tidak hidup pada fase tersebut (fase disyariatkannya jihad) maka kita menahan diri dari berjihad memerangi musuh sampai tiba fase yang jihad disyariatkan di dalamnya.
Read the rest of this entry »
Leave a Comment » |
Kajian Utama |
Permalink
Posted by akh paiman