Sesungguhnya laki-laki yang melihat kepada wanita
Seperti binatang buas mengelilingi daging
Apabila daging itu tidak dijaga dengan baik
Akan dimakan tanpa ganti rugi dan harta
Tak dipungkiri bahwa fitnah pandangan mata merupakan fitnah (ujian) besar bagi manusia. Namun kebanyakan manusia malah bermudah-mudahan padanya, sehingga hampir-hampir menjerumuskan mereka ke dalam busuknya maksiat dan jerat fitnah. Berapa banyak pemuda yang dulunya taat, berbalik menjadi pecinta maksiat. Berapa banyak pemudi yang dulunya polos dan lugu, berbalik menjadi wanita penghamba nafsu. Dan berapa banyak manusia yang karenanya terjatuh dalam perzinaan dan perbuatan keji. Naudzu billah! Maka, tak ada jalan keselamatan kecuali dengan menahan atau menundukkannya.
Alloh Azza wa Jalla berfirman, “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan kemaluannya…” [An-Nuur: 30-31]
Ibnu Qoyyim al-Jauziyah rohimahulloh berkata, “Alloh memerintahkan Nabi-Nya Shollallohu ‘alaihi wasallam agar memerintahkan kaum mukminin untuk menundukkan pandangan mereka, menjaga kemaluan mereka, dan memberitahukan kepada mereka bahwa Alloh menyaksikan amal-amal mereka ‘Dia mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati’ [Ghofir: 19] dan karena awal dari itu semua adalah pandangan. Maka Alloh menjadikan perintah menundukkan pandangan lebih dahulu daripada menjaga kemaluan.”
Dari Abu Huroiroh, dari Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Dituliskan atas bani Adam bagian dari zina, pasti melakukannya tidak bisa tidak. Maka kedua mata zinanya adalah memandang, kedua telinga zinanya adalah mendengar, lisan zinanya adalah berkata-kata, tangan zinanya adalah memegang, kaki zinanya adalah melangkah, hati berkeinginan dan berangan-angan dan kemaluan membenarkan itu semua atau mendustakannya.” [HR. Bukhori no. 6243 dan Muslim no.2657]
Ibnul Qoyyim berkata, “Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam memulai dengan zina mata karena itu adalah awal dari zina tangan, kaki, hati dan kemaluan. Dan Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam menegaskan bahwa ucapan adalah zina lisan karena zinanya bibir adalah mencium, dan kemaluanlah yang membenarkan itu semua apabila benar-benar melakukan perbuatan zina, atau mendustakan apabila tidak melaksanakannya.
Dan telah diketahui bahwa pandangan adalah sebab terjadinya zina, karena seseorang yang banyak memandang kecantikan wanita misalnya, kadang-kadang menyebabkan kecintaan di dalam hatinya yang itu menyebabkan kebinasaannya. Wal ‘iyadzubillah!
Orang yang tidak mengetahui akibat mengumbar pandangan akan menjerumuskan dirinya ke dalam kejelekan dan hampir-hampir hidup seperti binatang. Seluruh keinginannya hanyalah untuk bersenang-senang dengan apa yang Alloh haromkan, yaitu syahwat. Dan hal itu, demi Alloh, adalah jalan kesengsaraan. Tidaklah surga itu dikelilingi dengan perkara yang tidak disukai, dan neraka dikelilingi dengan syahwat kecuali agar Alloh membedakan antara orang yang jelek dari orang yang baik.
Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Surga itu dikelilingi dengan perkara-perkara yang tidak disukai dan neraka dikelilingi dengan syahwat.” [HR. Muslim no. 2822]
Pandangan adalah pintu yang paling besar menuju hati, sedangkan kemaluan tidak akan terjaga kecuali dengan menjaga pandangan. Menundukkan pandangan dari yang harom menjadikan hati bercahaya, bersinar, berwibawa dan mulia. Sedang mengumbarnya menjadikan hati gulita, padam, berujung hina dan nestapa.
Pengumbaran pandangan adalah kemaksiatan dan penyelisihan terhadap perintah Alloh Azza wa Jalla yang akan mempermudah masuknya syaithon ke dalam hati, karena syaithon masuk bersamaan dengan pandangan ke dalam sampai ke hati lebih cepat daripada berhembusnya angin di tempat yang kosong.
Kemudian syaithon membuat gambar orang yang dilihat tersebut dan menghias-hiasnya dan menjadikannya berhala yang hati “beri’tikaf” padanya kemudian syaithon membuat hati orang yang memandang tersebut menginginkannya kemudian syaithon menyalakan api syahwat dalam hatinya, dan melemparkan ke dalam api tersebut bahan bakar kayu kemaksiatan yang tidak mungkin sampai ke dalam api kecuali dengan gambar orang yang di lihat, sehingga hati menjadi berkobar dan telah dikelilingi dengan api dari berbagai penjuru, dan hati itu berada di tengah-tengah seperti kambing di tengah-tengah panggangan. Oleh sebab itulah balasan orang-orang yang melampiaskan syahwat dengan gambar-gambar yang harom akan dijadikan bagi mereka di alam barzakh panggangan dari api.
Pembaca, kita diperintah menundukkan pandangan tidak hanya terbatas pada apa yang ada di balik pakaian saja, tetapi juga dari apa yang ada di balik pintu. Hal itu karena rumah seseorang itu menutup badannya sebagaimana baju menutup badannya. Bahkan Alloh Azza wa Jalla telah menyebutkan perintah menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan setelah ayat tentang permintaan izin untuk masuk rumah karena rumah adalah pembatas, sebagaimana baju di badan. Demikianlah Alloh mengumpulkan antara dua pakaian dalam firman-Nya:
“Dan Alloh menjadikan bagimu tempat bernaung dari apa yang telah Dia ciptakan, dan Dia jadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung, dan Dia jadikan bagimu pakaian yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dalam peperangan…” [An-Nahl: 81]
Alloh Azza wa Jalla telah mensyariatkan permintaan izin, agar tidak terjadi pandangan kepada yang tidak dihalalkan untuk memandangnya, dan itu adalah adab yang Alloh ajarkan kepada kita agar kita meminta izin apabila ingin masuk rumah orang lain. Maka tidak halal bagi seseorang untuk masuk rumah orang lain tanpa izin dan salam berdasarkan firman Alloh dan hadits-hadits Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam berikut:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya.” [An-Nuur: 27]
Dari Sahl bin Sa’ad As-Sa’idy dia berkata: “Ada seseorang yang melihat ke dalam salah satu kamar Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam, dan ketika itu beliau memegang tusuk konde dan menggaruk kepala beliau dengan itu. Kemudian beliau bersabda: ‘Kalau aku mengetahui engkau melihat, aku benar-benar akan menusuk matamu dengan tusuk konde ini. Hanyalah disyariatkan meminta izin dikarenakan pandangan’.”
Dan dari Abu Huroiroh, bahwa Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barang siapa melihat kedalam rumah suatu kaum tanpa izin, maka telah halal bagi kaum tersebut untuk mencongkel matanya.” [HR. Al-Bukhori no. 5924 dan Muslim no. 2156]
Dalam sebuah riwayat: “Barang siapa melihat ke dalam rumah suatu kaum tanpa izin, kemudian kaum tersebut mencongkel matanya, maka tidak ada tebusan dan qishos.”
Dari Abu Huroiroh pula, bahwa Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seandainya seseorang melihat ke dalam rumahmu tanpa izin, kemudian kamu lempar dengan kerikil lalu menyebabkan matanya tercongkel, maka tidak ada dosa atasmu.” [HR. Al-Bukhori no. 6888 dan Muslim no.2158]
Pembaca, setelah membaca hadits-hadits di atas, masih adakah yang akan nyelonong masuk rumah orang lain tanpa izin? Masih adakah yang akan menganggap pengumbaran pandangan sebagai perkara enteng? Masih adakah yang akan bermudah-mudahan dengannya?
Andai manusia itu mau menundukkan pandangannya sekejap saja dari yang harom, maka dia akan mendapat ketenangan dan kebagusan dalam hatinya. Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Pandangan adalah salah satu anak panah yang dimiliki iblis, maka barangsiapa yang memejamkan pandangannya karena Alloh, maka Dia akan memberi rasa manisnya iman dalam hatinya, sampai pada hari di mana ia menghadap kepada-Nya.” [HR. Ahmad]
Al-Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyah berkata, “Menundukkan pandangan mengandung rahasia hikmah yang banyak, diantaranya ia adalah perintah Alloh, melaksanakannya berarti membawa kebahagiaan, mencegah pengaruh negatif akibat pandangan yang berbisa, menghidupkan ketabahan dan memberi ketenangan jiwa, menjadikan hati bercahaya, pelakunya akan memiliki ketajaman firasat, menutup pintu-pintu gangguan syaithon, bahwa antara mata dan hati saling mempengaruhi.”
Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Semua mata kelak akan menangis di hari kiamat, kecuali mata yang ditundukkan dari pandangan yang haram, mata yang terjaga ketika jihad fi sabilillah dan mata yang darinya menetes air mata sekalipun sebesar kepala lalat karena takut kepada Alloh.” [Hadits marfu’ diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dari Abu Huroiroh]
Wallohu a’lam
(Disarikan dari kitab Fitnatun Nazhor karya Faishol bin ‘Abduh Qo’id al Hasyidi )
Klaten, 18 Shofar 1430 H
Paiman bin Bandi al-Klateni