Sebuah Fenomena

Don't be Stupid!
Ada fenomena kehidupan para wanita yang cukup “mengerikan” di masyarakat kita hari-hari ini, yaitu kejahilan (kebodohan) mereka akan perkara agamanya. Ya, kebodohan wanita akan perkara agamanya memang merupakan fenomena mengerikan yang merebak di masyarakat kita dewasa ini. Sehingga mudah saja kita dapati wanita yang tidak tahu (atau tidak mau tahu?) bagaimana berpakaian yang baik dan benar sesuai syariat…tidak tahu bagaimana cara membersihkan najis…bagaimana cara wudlu yang benar…bagaimana tata cara sholat yang sesuai dengan tuntunan Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam… Lebih dari itu, bahkan tidak bisa membedakan antara tauhid dan syirik, sunnah dan bid’ah.
Yaa subhanalloh! Lalu bagaimana wanita yang jahil (bodoh) ini bisa mendidik generasi Robbani yang siap mengemban amanah Alloh di muka bumi? Bukankah “Ibu adalah madrosah bagi anak-anaknya”?
Secara “kodrati”, wanita itu memang -afwan- stupid. Ya stupid dari segi akalnya, ya stupid dalam agamanya. Hal itu berdasar pada haditsnya Abu Sa’id Al-Khudri berikut:
Dia berkata: “Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam keluar pada hari raya ‘Idul Adha dan ‘Idul Fitri ke tanah lapang. Kemudian beliau mendatangi wanita dan berkhutbah: ‘Wahai sekalian wanita, bershodaqohlah! Sesungguhnya aku melihat kalian adalah paling banyak menghuni neraka. Maka mereka mengatakan: ‘Kenapa, wahai Rosululloh?’
Beliau bersabda: ‘Karena kalian banyak mencela dan mengingkari nikmat suami, aku tidak melihat orang yang kurang akal dan agamanya lebih mampu menghilangkan akal laki-laki yang kokoh daripada kalian. ‘Apa kekurangan akal dan agama kami, wahai Rosululloh?’
Beliau menjawab: ‘Bukankah persaksian wanita adalah setengah dari persaksian laki-laki?’ Mereka menjawab: ‘Iya.’ Beliau bersabda: ‘Itulah kekurangan akal kalian. Bukankah apabila kalian haid kalian tidak sholat dan puasa?’ Mereka menjawab: ‘Iya.’ Rosululloh bersabda: ‘Itulah kekurangan agama kalian.’ [HR. Al-Bukhori no. 324 dan Muslim no. 79]
Sungguh, kejahilan (kebodohan) ini pula yang dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam untuk menghancurkan Islam. Sebagaimana Iblis tuan mereka menjadikan wanita sebagai tentaranya untuk melumpuhkan anak Adam. Satu bukti darinya adalah ucapan salah seorang dari mereka. Ia menyatakan: “Gelas (khomr) dan wanita cantik lebih banyak menghancurkan umat Muhammad daripada seribu senjata. Maka tenggelamkanlah mereka dalam cinta syahwat!
Wahai saudariku muslimah, tidakkah kalian ketahui, bahwa sebab jahilnya para wanita membuat mereka menjadikan wanita sebagai barang dagangan yang murah? Dan itu, demi Alloh, adalah bukti bahwa wanita itu tidak berharga di sisi mereka. Yah, demikianlah mudlorotnya kebodohan…
Meraih Kemuliaan dengan Ilmu
Ada baiknya marilah kita sejenak merenungi hadits Mu’awiyah ibnul Hakam As-Sulami rodhiyallahu ‘anhu berikut, yang diungkapkan sebuah dialog antara Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam dengan seorang budak wanita:
“Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: ‘Di mana Alloh?’ Budak wanita itu menjawab: ‘Di (atas) langit.’ Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kembali: ‘Siapa saya?’ ‘Anda Rosululloh,’ jawab budak wanita itu. Kata Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Bebaskan dia. Karena sesungguhnya dia seorang wanita yang beriman’.” [HR. Abu Dawud. Dishohihkan Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rohimahullohu dalam Sunan Abi Dawud, no. 930]
Cermatilah kisah mulia di atas. Sejenak saja merenungi, niscaya akan banyak didapat mutiara hikmah dari hadits tersebut. Akan ditemukan, betapa kemuliaan seorang wanita bukan semata keelokan paras dan tubuhnya. Bukan pula semata karena kekayaan yang menyelimutinya. Tidak juga lantaran semata keturunan. Kisah hadits di atas membeberkan demikian gamblang, betapa keimanan yang kokoh menyembul di kalbu mampu mengantarkan seseorang memperoleh kemuliaan. Keimanan dan ilmu yang dimiliki jariyah (budak wanita) itu telah mengurai belenggu budak yang melekat padanya. Ia menjadi seorang wanita yang dengan leluasa menghirup udara kebebasan senyatanya.
Cermatilah, dengan keimanan yang menggumpal di relung hatinya, sang budak wanita itu dengan penuh keyakinan mengimani bahwa Alloh Subhanahu wa Ta’ala di (atas) langit dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Rosululloh. Kenapa ia mampu menjawab? Tak lain karena ilmu yang ia miliki. Ya, melalui keimanan dan ilmu, maka akan terangkatlah martabat dan harkat seseorang. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Alloh akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” [Al-Mujadilah: 11]
Duhai saudariku muslimah, Islam telah mewajibkan wanita untuk belajar ilmu agama, yang mencakup rukun iman dan Islam, mengenal tauhid dengan pengenalan yang benar, jauh dari syirik, selamat dari segala bid’ah serta khurofat, dan mengenal perkara yang berkaitan dengan penunaian kewajibannya terhadap suami dan keluarga. Termasuk juga mengetahui hal-hal yang dapat memperbaiki hatinya dari penyakit-penyakit seperti hasad, riya’, ghibah, namimah dan lain-lain.
Tidak luput pula kewajiban bagi wanita untuk mengetahui hukum zinah (perhiasan) dan syarat-syarat hijab syar’i, hukum ikhtilat dan kholwat sesuai dengan ketetapan kitabulloh dan sunnah Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam yang shohihah.
Dalam menuntut ilmu agama, hendaknya memang dimulai dari perkara yang diwajibkan Alloh atasnya terlebih dahulu, seperti ia mulai dengan belajar ilmu tauhid yang merupakan pokok agama ini, karena Alloh tidak akan menerima amal apapun dari seorang hamba jika ia tidak mentauhidkan Alloh dalam ibadah tersebut. Sebagaimana Alloh berfirman dalam hadits qudsi:
“Aku paling tidak butuh kepada sekutu-sekutu dari perbuatan syirik. Siapa yang mengerjakan suatu amalan yang dalam amalan tersebut dia menyekutukan Aku dengan yang lain maka Aku tinggalkan dia dari sekutunya.”
Saudariku, janganlah menganggap sulit urusan menuntut ilmu karena alhamdulillah menuntut ilmu itu mudah bagi siapa yang Alloh Subhanahu wa Ta’ala mudahkan, sebagaimana firman-Nya: “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an itu untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?” [Al-Qomar: 17] Dan sebagaimana sabda Nabi Shollalohu ‘alaihi wasallam: “Aku diutus dengan membawa agama yang lurus dan mudah.”
Jadi Akhwat Kudu Pinter
Akhwati fillah, masalah pendidikan merupakan perkara yang penting karena Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” [At-Tahrim: 6]
Dan anak-anak kecil itu harus berada di bawah asuhan para wanita, jika dia seorang wanita yang sholihah ia akan mengajari kebaikan kepada anak-anaknya, tapi kalau tidak, tentu dia akan merusak mereka.
Ketahuilah saudariku, bahwasanya ibu adalah madrosah bagi anak-anaknya. Jika engkau mempersiapkannya dengan baik, maka engkau telah mempersiapkan bangsa yang baik dasarnya. Karenanya, jadi akhwat jangan jahil. Jadi akhwat kudu pinter.
Penutup
Saudariku muslimah, kami buat tulisan ini bukan berarti bermaksud membodoh-bodohkan para akhwat sekalian dan sudah merasa paling pinter sendiri. Kalaulah kalian tahu, ya Akhwati fillah -semoga Alloh merahmatimu-, bahwa sebenarnya kami, demi Alloh, masih merasa amat sangat bodoh dalam hal ilmu, dan karena itulah kami senantiasa belajar dan terus belajar.
Demikianlah… Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang dimudahkan oleh Alloh untuk memperjalankan kaki-kaki kita ini dalam rangka menuntut ilmu (syar’i).
Akhirnya, segala puji hanyalah bagi Alloh Robb semesta alam…
Klaten, 23 Shofar 1430 H
Paiman bin Bandi al-Klateni
Referensi:
- Majalah Salafy, Edisi XXX/tahun 1420 H/1999 M
- Majalah Syari’ah, Vol.I/No. 03/Robiul Akhir 1424 H
- Majalah Asy-Syari’ah, No. 38/IV/1429 H/2008
- Fitnatun Nazhor, Faisol bin ‘Abduh Qo’id al-Hasyidi
- Nashihati Lin Nisa’, Ummu Abdillah Al-Wadi’iyyah
February 20, 2009 at 9:32 am
mungkin kata “goblok” bisa diganti dengan kata “awam” atau yang lebih halus dari itu.. Barakallaahufiyk…
February 21, 2009 at 3:48 pm
bagaimana kalau jahil….atau bodoh?bukankah itu murodif….saya yakin referensinya ga pake goblok,kalau tidak ya katakan saja wanita goblok ga bisa cawek setelah ngising wa haluma jaro
February 22, 2009 at 8:52 am
bismillah
masyaAllah…kaget euy sama kata yang satu itu(“goblok”).
ana paham maksud antum menggunakan kata itu tapi mbo yo diperhalus dikit, apalagi kata akhwat disandingkan dengan “goblok”…
kalo kata akhwat diganti dengan wanita ya ora opo2…
ingat akh, wanita itu terbuat dari apa…?tulang rusuk laki2 bukan?
jika dibiarkan akan tetap bengkok tapi apabila diluruskan hati2 bisa jadi patah…
tolong berhati-hati dalam menggunakan kata2 untuk kaum hawa.
mau usul, gimana kalo kata “goblok” diganti tulalit???
‘afwan kalo kata “goblok” itu bahasa sehari2 preman.
‘afwan jiddan.
barokallohu fiikum
February 22, 2009 at 7:22 pm
subjudul yg “meraih kemuliaan dengan ilmu” kata2nya lebih mengena,’afwan klo paragraf sblumnya dari subjudul itu tolong di edit.
Antum sbg kaum adam yg berbeda dgn kami,karena kami kurang akal dn agamanya,tolong didik kami dengan kata2 yg baik. Kami jadi risih sekali membaca kata itu.
‘afwan,blog antum sdang tdk dibaca preman or pregirl, tp akhwat loh.
Jazaakallohu khoiron.
February 27, 2009 at 3:02 pm
bismillah..
assalamu’alaikum ya akhi
semoga Allah -subhanallahu wata’ala- menjaga Antum dan keluarga.
afwan ya akhi, dakwah ini dakwah yang mulia.. alangkah baiknya kata-kata yang membuat lari dari dakwah sebisa mungkin dihilangkan.
mungkin saja Allah belum membuka pintu hidayah bagi mereka.. bisa jadi juga akan dialami antum dan keluarga. dan apakah harus tunggu ustadz yang memberi usul kalau tiap ada yang usul ditolak?
semoga Allah memberkahi dakwah yang mulia ini.
barakallahufiik
dari saudaramu
abuyahya
February 28, 2009 at 12:17 am
Bismillah…
Assalamu’alaikum ya akhii kariim
Pernahkah antum dengar Rasulullah memakai kata goblok dan yang semisalnya ketika menasehati kaum hawa? Ana SETUJU dengan 4 komentar yang sudah masuk.
Ana khawatir antum menjadi salah satu dari yang Rasulullah kabarkan, yakni Al-Munaffiriin, yakni ornag yang telah membuat lari manusia dari kebenaran karena bahasa atau sikap yang kau perbuat.
Dakwah punya marhalah, ya akhi. Sebanyak apapun alasan antum, tetep saja antum harus lihat kepada mudharatnya. JANGAN jadi munaffiriin. Semoga Allah merahmatimu.
Antum harus pandai menempatkan diri, akhi. Kata Ustadz Muhammad, yang namanya hikmah dala dakwah itu adalah PANDAI DAN TEPAT dalam mengambil sikap dan menempatkan diri kepada objek dakwah.
Kadang kita merasa ini ‘mengena’. Ya, mungkin bisa mengena ke hati dan berpengaruh positif. Tapi, apa jadinya kalo mengena kepada hati, rasanya sakit, pedih, dan perih?
Wallahu a’lam.
Nasehat telah terucap, tapi bagaimana responmu, semoga Allah merahmatimu.
February 28, 2009 at 12:19 am
satu lagi, kayaknya dalam artikel asli Ustadz, mereka menggunakan setidaknya kata BODOH, bukan GOBLOK. Makna yang memberikan pengaruh beda bagi seseorang….
February 28, 2009 at 10:11 am
@ Abu Yahya + Abu Hanif
Wa’alaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh.
Subhanalloh wal hamdulillah.. Jazakumullohu khoiron katsiron, ya Aba Yahya wa Aba Hanif, atas nasihatnya. Antuma benar. Pikir ana dulu, ya namanya juga obat kalo pahit ya wajar dong. Tapi sekarang, ana ngaku salah deh.. Bukan kebenaran sebenarnya yang pahit, tapi mulut ana.
Mulai detik ini juga, ana tarik kata2 ana yang dulu (meski komentarnya tdk ana hapus). Semua usulan diterima, kata “goblok” hrs diganti dg yg lbh halus. Dan menurut ana kata yg tepat adalah “jahil”. Semoga kata “jahil” ini dinilai tdk terlalu “kasar”.
Ini sekaligus sbg permohonan maaf ana kpd semua akhwat yg pernah membaca tulisan di atas (sebelum ana edit).
Wal hamdulillahi Robbil Alamiin..
March 1, 2009 at 2:45 am
rasanya kata “Jahil” pun masih agak menohok hati pembaca….
ahsan gunakan kata: “jauh dari perilaku islami” atau yang semakna dengan itu…
March 4, 2009 at 11:58 am
Alhamdulillah sudah diganti,mudah2n tman ana msih mau baca artikel antum lg.
Jazaakallohu khoiron