Jalan dakwah adalah jalannya para Nabi dan Rosul Sholawatulloh ‘alaihim ajma’in, juga jalannya generasi terbaik umat ini dari kalangan Salafus Sholih Ridhwanullohi ‘alaihim ajma’in, juga jalannya para Imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah pada masanya. Tongkat estafet Dakwah Salafiyyah Ahlus Sunnah wal Jama’ah terus bergulir dari generasi ke generasi berikutnya, dari Rosul pertama Nabi Nuh ‘Alaihi Sallam hingga Rosul terakhir Muhammad Shollallohu ‘alaihi wasallam dan dari zaman beliau hingga zaman 3 generasi terbaik umat ini dan terus menerus berkesinambungan hingga zaman kita ini.
Apabila kita mencermati perjalanan dakwah para pendahulu kita, maka pelajaran penting dan berharga akan kita temukan, bahwasanya seorang da’i harus mempunyai persiapan dan bekal yang cukup matang, lahir dan batin, untuk menghadapi beban, gangguan dan rintangan dakwah yang senantiasa menghadangnya.
Salah satu sifat yang harus dimiliki oleh seorang da’i adalah sifat lemah lembut. Ya, karena tidak diragukan lagi bahwa hati-hati itu cenderung kepada orang yang berbuat lemah lembut dan ramah dengannya. Dan tabiat kemanusiaan akan lari dari perkataan yang kasar dan kaku, walau dia itu adalah sebaik-baik makhluk Alloh, sebagaimana dalam firman-Nya: “Maka disebabkan rohmat dari Alloh-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” [Ali Imron: 159]
Al-Imam Muslim telah meriwayatkan dari ‘Aisyah Rodhiyallohu ‘anha dari Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya kelembutan tidak ada dalam sesuatu kecuali akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut dari sesuatu kecuali akan membuatnya menjadi buruk.” [HR. Muslim no. 2594]
Oleh karena itu, sesungguhnya keberadaan kelembutan dalam dakwah termasuk perkara yang menghiasinya, sehingga dakwah dengannya menjadi lebih mengena dalam membuat condong setiap hati manusia dan tercapainya tujuan. Sedangkan ketiadaannya termasuk perkara yang membuat dakwah menjadi buruk (cacat).
Bahkan saking pentingnya sikap lemah lembut ini beliau Shollallohu ‘alaihi wasallam berdoa kepada Alloh dengan do’anya: “Ya Alloh, barangsiapa yang bersikap lembut kepada umatku, maka berlaku lembutlah kepadanya, dan barang siapa yang menyusahkan umatku, maka susahkanlah dia.” [ HR. Muslim no. 1828]
Maka seorang da’i adalah orang yang paling pantas untuk bersemangat dalam memperoleh do’a Nabi yang mulia tersebut. Dan yang demikian itu dengan bersikap lembut kepada umat beliau ketika berdakwah.
Pembaca, dakwah dengan sikap lembut adalah kaedah umum untuk dakwah, akan tetapi hal itu bukanlah satu bentuk baku dari dakwah, bukanlah satu-satunya cara berdakwah. Di sana ada keadaan-keadaan yang dipakai padanya sikap keras. Di antaranya:
- Jika kehormatan Alloh Azza wa Jalla dilanggar dan ketika menegakkan hukum had.
- Ketika munculnya penentangan, peremehan, dan pengolok-olokkan terhadap dakwah.
- Ketika munculnya penyelisihan syariat dari orang yang tidak diperkirakan hal itu terjadi dari mereka.
- Sikap keras dalam dakwah tidak dipakai kecuali setelah mempelajari dan meneliti akibat apa yang akan ditimbulkannya.
Asy-Syaikh Muhammad Amin Asy-Syinqithy berkata, “Ketahuilah bahwa dakwah itu ada dua cara, yakni lemah lembut dan tegas. Adapun cara lemah lembut adalah berdakwah dengan hikmah dan mau’izhoh al-hasanah (nasihat yang baik), serta menerangkan dalil-dalilnya dengan metode yang paling baik dan paling halus. Jika cara ini sukses, maka itulah yang diharapkan. Jika tidak, maka perlu kekerasan dengan pedang sampai Alloh saja yang diibadahi dan hukum-hukum-Nya ditegakkan, perintah-perintah-Nya dilaksanakan, dan larangan-larangan-Nya dijauhi. Inilah yang diisyaratkan dalam firman Alloh Azza wa Jalla:
“Sesungguhnya Kami telah mengutus rosul-rosul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan diciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat.” [Al-Hadid: 25]
Di dalamnya ada isyarat untuk memakai pedang setelah penegakkan hujjah. Jika kitab-kitab tidak memberi manfaat maka diutus katibah-katibah (pasukan-pasukan berkuda). Dan Alloh Azza wa Jalla mencegah (kerusakan) melalui kekuasaan (Penguasa) apa yang tidak Dia berikan kepada Al-Qur’an.” [Adhwaul Bayan 2/174-175]
Asy-Syaikh Robi bin Hadi al-Madkholi hafizhahulloh berkata, “Hukum asal dalam berdakwah adalah dengan menggunakan sikap lemah lembut, kehalusan dan hikmah, inilah hukum asalnya. Namun jika engkau mendapatkan orang yang keras kepala, tidak mau menerima al-Haq, dan engkau telah menegakkan hujjah atasnya, dan ia menolak, maka saat itu gunakanlah bantahan.” [Al-Hats 'ala al-Mawaddah hal.38]
Pembaca, sesungguhnya dakwah kita ini adalah dakwah yang benar. Dan kebenaran itu sangat berat diterima oleh jiwa. Dan tentu saja rasa berat itu akan semakin bertambah ketika cara penyampaiannya juga memberatkan, misalnya keras/kasar. Maksud baik bisa jadi dipahami secara keliru karena disampaikan dengan cara kurang baik. Karenanya, “Serulah mereka ke jalan Robbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah dengan cara yang baik pula. Sesungguhnya Robbmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalanNya dan Dialah yang mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” [An-Nahl: 125]
Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdulloh bin Baz rohimahulloh mengatakan tentang akhlak yang harus dimiliki oleh seorang da’i: “Kewajibanmu wahai hamba Alloh! Lembutlah dalam dakwahmu dan jangan menyulitkan orang-orang, membuatnya lari dari agama, jangan membuat mereka lari dengan kekasaranmu, kebodohanmu, kekerasanmu yang menyakitkan dan memudlorotkan.” [Lihat Da'wah wa Akhlaqud Du'at bab Akhlak yang Harus Dimiliki Seorang Da'i]
Asy-Syaikh Robi’ bin Hadi al-Madkholi hafizhahulloh menasihatkan kepada ikhwan salafiyyin, “Dan kita sudah menyaksikan bahwa sikap keras telah menghancurkan dakwah salafiyyah serta mencabik-cabik barisan salafiyyah… Maka aku nasihatkan: berlemah lembutlah, bersikaplah penyayang, berukhuwahlah, saling mengasihanilah. Sikap keras itu telah berbalik diterapkan di antara sesama Ahlus Sunnah. Mereka telah meninggalkan ahlul bid’ah lalu menyerang Ahlus Sunnah dengan sikap keras yang menghancurkan. Dan kerap sikap keras itu dibumbui dengan vonis-vonis batil dan penuh kezaliman! [Al-Hats 'ala al-Mawaddah hal. 21]
Wallohu a’lam.
(Diringkas dari kitab Min shifaat Ad-Da’iyah: Al-lin war Rifq karya Dr. Fadhl Ilahi dengan sedikit tambahan dari sumber lain)
Jogja, 6 Robiul Awal 1430 H
Paiman bin Bandi al-Klateni
March 4, 2009 at 4:17 pm
Aferiza said:
Salam, saya mohon copy article ni. dan saya dah attach kan sekali URLnya.
March 10, 2009 at 9:53 pm
Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh
Alhamdulillah, wash-sholaatu wassalaam ‘alaa Rasulillahil karim, Muhammad bin Abdillah Al-Quraisyi.
TELAH HADIR KE TENGAH RUANG BROWSING ANDA, SEBUAH TOKO BUKU ISLAM MURAH DAN BERKUALITAS! http://WWW.GEMA-ILMU.COM
Apakah Anda mencari buku-buku agama Islam yang berkualitas? Apakah Anda orang yang haus akan ilmu agama yang benar?
Jangan salah dalam memilih buku. Pilihlah yang berpemahaman Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Anda bingung di mana
mendapatkan buku-buku Ahlus Sunnah Wal Jama’ah? Tidak perlu bingung, saudaraku. Kini, telah hadir sebuh toko online
Gema-Ilmu.Com yang menyediakan buku-buku Ahlus Sunnah yang murah dan lengkap! Kapan dan dimanapun Anda berada,
Insya Allah dengan mudah bisa mendapatkannya.
Anda mencari buku-buku pendidikan anak-anak; kisah-kisah Islami, tentang aqidah, tauhid, syirik, ibadah, fikih
Islam, muamalah, hadits, dan sebagainya?
Hanya di http://WWW.GEMA-ILMU.COM. SEMUA BUKU ADA DISKONNYA!!!
Kunjungi dan buktikan!
HUB: 0813 2880 8279 dengan Abu Ubaidah Muchlisin, SP
Jazakumullahu khairan katsiiraaa…..
MAU BELI BUKU? INGATNYA YA..GEMA ILMU!