Saksikan bahwa Aku Seorang Salafi!

As-Sam’ani dalam Al-Ansab (3/273) mengatakan: “Salafi, dengan mem-fathah sin dan lam kemudian yang terakhir (meng-kasroh) fa’, adalah nisbah kepada Salaf, menganut ajaran madzhab mereka sebagaimana kamu dengar dari mereka.”

Imam As-Safarini mengatakan: “Yang dimaksud madzhab salaf ialah apa yang berjalan di atasnya para shohabat yang mulia, orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik (tabi’in), tabi’ut tabi’in, para imam Islam yang diakui keimaman mereka dan dikenal besar peranannya dalam Islam serta diterima ucapannya oleh kaum muslimin generasi demi generasi, bukan mereka yang tertuduh dengan kebid’ahan, atau dikenal dengan julukan yang tidak diridhoi, seperti khowarij, rofidhoh, qodariyah, murji’ah, jabriyah, jahmiyah, mu’tazilah, karromiyah dan sebagainya.”

Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz rohimahulloh pernah ditanya: “Apa pendapat anda tentang orang yang menamakan diri sebagai salafi dan atsari, apakah hal ini bentuk tazkiyah (menganggap suci diri sendiri)?”

Beliau rohimahulloh menjawab: “Kalau dia jujur bahwa dia seorang atsari atau salafi, tidaklah mengapa seperti salaf mengatakan si Fulan Salafi, si Fulan Atsari (pengikut atsar), tazkiyah yang mau tidak mau, tazkiyah yang wajib.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: “Tidaklah ‘aib orang yang menampakkan madzhab salaf, menisbahkan diri kepadanya atau merasa bangga/mulia dengannya. Bahkan wajib menerima hal tersebut (penampakan, penisbahan dan kebanggaan itu) darinya. Karena sesungguhnya madzhab salaf itu tidak lain kecuali kebenaran.”

(Diambil dari kitab Kun Salafiyyan ‘alal Jaaddah karya Asy-Syaikh DR. Abdussalam bin Salim as-Suhaimi)


Jogja, 4 Robiul Akhir 1430 H

Paiman bin Bandi al-Klateni

Related Articles

4 Responses to “Saksikan bahwa Aku Seorang Salafi!”

  1. Aa' simens Says:

    apa menurut antum tentang makna JIHAD. tOLONG BALAS DI eMAIL.ANA “simensmen@ymail.com”

  2. rejal Says:

    Wah Salaf yang mana neh? Mana Bukti para salaf bersatu di atas madzhab satu? Ana kasih bukti silakan ditanggapi.. Salaf Berselisih Tentang Apakah Al Qur’an itu Makhluk atau Bukan?! Adalah sebuah kenyataan yang tidak dapat dipungkiri bahwa Salaf telah bersengketa tentang masalah yang pelik ini.
    Ibnu Abdil Barr dalam kitab al Intiq’-nya:106 ketika menyebutkan sejarah hidup Al hafidz al Karbisi dan memujinya, ia berkata, Dahulu ia bersahabat akrab dengan Ahmad ibn Hanbal, lalu setelah ia menyalahinya dalam masalah Al Qur’an persahabatan itu berubah menjadi permusuhan. Masing-masing saling mengecam. Hal itu karena Ahmad ibn Hanbal berpendapat, Barang siapa berkata Al Quran itu makhluk maka ia seorang Jahmi. Dan barang siapa berkata Al Qur’an itu adalah Kalam Allah dan tidak berkata makhluk atau bukan makhluk maka dia seorang Waqifi. Dan barang siapa berkata UCAPANKU DENGAN (ayat-ayat) Al QUR’AN ADALAH MAKHLUK maka ia seorang pembid’ah.
    Sementara al Karbisi, Abdullah ibn Kullb, Abu Tsaur, Daud ibn Ali, Al Bukhari, al Harist ibn Asad al Muhasibi, Muhammad ibn Nashr al Marwazi, dan banyak kalangan berpendapat : Sesungguhnya Al Qur’an yang difirmankan Allah adalah sifat dari sifat-sifat-Nya, tidak boleh dikatakan ia ciptaan. Dan Sesungguhnya bacaan seorang pembaca Al Qur’an adalah sebuah kasb (usaha) si pembaca dan pekerjaannya, ia adalah makhluk (ciptaan), dan menirukan firman Allah. Ia bukan Al Qur’an yang difirmankan Allah Adz Dzahabi berkata tentang siapa sejatinya al Karbisi, ia berkata,ia orang pertama yang menjabarkan masalah lafadz (pelafadzan). Tidak diragukan lagi bahwa apa yang dicetuskan dan diuraikan alKarbisi dalam masalah talaffudz (pengucapan teks/kata-kata) bahwa ia itu adalah makhluk adalah pendapat yang haq. Salaf yang sependapat dengan pendapat ini (peelafadzan Alquran adalah Makhluk) adalah Imam Bukahri, Muslim dan lainnya.
    Sedangkan di antara ulama Salaf yang sependapat dengan Imam Ahmad dalam masalah ini (pelafadzan Alquran adalah tetap kalam Allah) adalah adz Dzuhali, Abu Zar’ah dan Abu Hatim.
    Jadi jelaslah bagi kita hakikat sebenarnya bahwa telah terjadi sengketa dan perselisihan tajam di antara dua kubu Salaf! Lalu pendapat Salaf Shaleh yang mana yang akan kita pilih?
    Dan dengan pemahaman Salaf Shaleh yang mana kita akan membangun keyakinan keagaman kita? Pendapatnya Imam Ahmad? Atau Pendapatnya Alkarbisi yang didukung Albukhari dan Almuslim?

    Salafi berkeyakinan bahwa Al Qur’an adalah kalamulloh, dan bukan makhluk. Kalamulloh adalah sifat dari sifat-sifat Alloh dan Alloh terus menerus disifati dengan sifat kalam/ berbicara secara hakiki sesuai dengan kesempurnaan-Nya dan menurut kehendak-Nya. Bicara-Nya dengan huruf dan suara yang bisa didengar akan tetapi tidak serupa dengan suara makhluk. Berkata-kata dengan apa-apa yang Alloh kehendaki dan kapan saja Dia kehendaki. Wallohu a’lam.

  3. rejal Says:

    Ini Bukti lagi kalau Aqidah Salafi Wahaby berbeda dengan Aqidah Ahlussunnah, (yang bilang Al Albani lo man) monggo man di cek.
    Soal : Apakah Akidah yang dianut kelompok Salafiyyn adalah akidah para sahabat? Karena di sana ada banyak orang yang mengatakan jika benar memang akidah Sahabat, maka datangkan kepada kami walau hanya seorang sahabat saja yang berkata (tentang ayat/hadis sifat): Kami beriman dengan makna dan menyerahkan kaif-nya (kepada Allah).
    Syekh Al Albani menjawab : Apakah di sana ada seorang sahabat pun yang menakwil dengan ta’wilan kaum Khalaf, kami hanya menginginkan satu atau dua contoh saja?! Al Baghawi berkata tentang tafsir ayat Istiwa: Al Kalbi dan Muqatil berkata: (artinya kata istawa): adalah istaqarra/bersemayam. Abu Ubaidah berkata: (artinya) Sha’ida/naik. Sedangkan kaum Mu’tazilah mena’wilkan dengan: istila/menguasai. Adapun Ahlus Sunah berkata : al Istiwa di atas Arsy adalah sifat Allah TANPA KAIF/bentuk. Wajib atas seorang untuk mengimaninya dan menyerahkan ilmu tentangnya kepada Allah. Ada seorang bertanya kepada Imam Malik tentang ayat istiwa : Bagaimana Allah beristiwa? Maka Imam Malik menundukkan kepalanya sejenak dan beliau gemetar kemudian berkata: Istiwa tidak majhul, kaif tidak ma’qul (tidak masuk akal), mengimaninya adalah wajib dan bertanya tentangnya adalah bid’ah. dan aku tidak melihatmu melainkan seorang yang sesat. Setelahnya ia diperintahkan agar dikeluarkan (dari majlis). (Fatawa al Albani : 509)
    Coba Anda perhatikan jawaban Syekh Albani, Ia hanya mampu menghadapi si penanya dengan pertanyaan balik dengan mengatakan, Jika engkau katakan tidak ada seorang sahabat pun yang memaknai ayat/hadis sifat secara dzahir lafadznya seperti layaknya keyakinan kaum Salafy, tetapi juga tidak ditemukan seorang pun dari sahabat yang menyetujui ta’wil kaum penakwil!
    Dengan jawaban itu ia beranggapan akan selesai permasalahan. Tapi tentunya si penanya boleh saja bertanya kembali, Selama para sahabat Nabi Saw. tidak menyesuai kaum salafi dan tidak juga kaum penakwil, jadi yang benar adalah Mazhab Tafwidh! Bagaimana al Albani mengingkari penakwilan para sahabat seperti A’syah, Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud dkk. begitu juga ta’wil kaum Tabi’in?!
    Dan akhirnya,setelah memelototi setiap baris dan lembar kitab2nya, ternyata ia hanya mampu menemukan ocehan Muqatil (seorang Parsi Majusi, murid andalan kaum Yahudi yang Mujassim) dan al Kalbi (yang dicacat semua kalangan ulama Islam) sebagai pendukung Mazhab Salafi, Mengaku pewaris sejati Mazhab Pengikut Para Salaf ternyata hanya mampu menemukan ocehan Muqatil dan al Kalbi?! Itulah Salaf yang dimaksud!! Dan hanya mereka Salaf!! Sementara yang ditanyakan adalah aqidah sahabat Nabi Muhammad Saw. yang sependapat dengan akidah Salafi? Bukan murid-murid kaum Yahudi Mujassimah seperti Muqatil, atau yang dicacat kepribadiannya seperti al Kalbi.
    Albani juga menjawab ” Adapun Ahlus Sunah berkata: al Istiwa di atas Arsy adalah sifat Allah TANPA KAIF/bentuk. Wajib atas seorang untuk mengimaninya dan menyerahkan ilmu tentangnya kepada Allah “. Tapi kenyataanya? Wahaby malah sependapat dengan Muqatil yang Memaknai Istawa dengan Semayam/duduk. Bagaimana bisa salafy mengklaim secara sepihak kalo mereka adalah Ahlussunah Wal Jama’aah? Jama’ahnya Muqatil dan Alkalbi kah yg dimaksud? .
    Bagaimana Kelompok Salafi ini mengaku Ahlussunnah? Kalau Aqidahnya berbeda dengan aqidah Ahlussunnah? Uraian itu al albani loh man yang bilang. Mau taqlid ama Albani, apa mau mengikuti Imam Malik yang tidak mencari2 arti kata istawa? Kalau antum the Real Salaf pazti akan memilih pendapatnya Imam Malik. Bukan memaknai kata istawa dengan Semayam/duduk man..

    Salafi berkeyakinan bahwa Alloh ber-istiwa` di atas ‘Arsy-Nya. Salafi selalu meyakini bahwa sifat-sifat Alloh tidak boleh disamakan dengan sifat makhluk, tidak boleh ditanyakan tentang bagaimana keadaannya, tidak boleh menakwilkan dengan sesuatu yang keluar dari makna zhohir sebagaimana yang telah diyakini salafus sholih, dan tidak boleh pula mengingkarinya. Tidak ada satupun salafush sholih yang mengingkari bahwa Alloh Azza wa Jalla benar-benar ber-istiwa` di atas Arsy-Nya. Yang tidak mereka ketahui adalah bagaimana cara ber-istiwa`. Dan sungguh hal itu tidaklah diketahui hakekatnya. Wallohu a’lam bish-showab.

  4. rejal Says:

    TAK TNGGU MODERASI DAN KOMENTMU MAN. TANYAKAN KE USTADZ ARIS MUNANDAR KL NT MANG DI JOGJA,NI TAK KSH NO HP NYA 08157985796

    Afwan, ana tdk berguru dg Ustadz yg antum rekomendasikan itu. Baca kembali “Ustadz Salafi”

Leave a Reply