Inilah kisah tentang orang-orang yang sedang ngiler melihat dunia. Mereka adalah para aktivis partai “Islam” yang berlomba-lomba membual dan mengobral janji demi sebuah kursi kedudukan dengan dalih untuk memperjuangkan Islam. Berbagai cara dilakukan demi memperoleh suara sebanyak-banyaknya. Tak peduli walau harus pakai cara-cara harom sekalipun. Nyogok masyarakat melalui acara “bagi-bagi uang dan kaos” adalah salah satu aksinya.
Yah, begitulah kalau ambisi keduniawian telah mencapai klimaks-nya. Apapun dilakukan meski agama menjadi taruhannya. Benar kata Rosul, “Tidaklah dua ekor serigala yang lapar dilepas di tengah sekawanan kambing lebih merusak seseorang terhadap agamanya karena ambisinya untuk mendapatkan harta dan kedudukan.” [HR. Tirmidzi]
Subhanalloh! Betapa mengerikan keadaan agama orang tersebut. Bagaimanakah keadaan kambing yang dikeroyok oleh dua serigala lapar? Jelas, sudah dapat dipastikan bahwa kambing tersebut akan kehilangan kulit dan dagingnya. Bahkan, tulang-tulangnya pun kemungkinan juga akan di-klethak-i sampai habis tak tersisa! Kalau demikian keadaan kambing tersebut, lalu bagaimana keadaan agama seseorang yang dipenuhi dengan ambisi harta dan jabatan?!
Sudah saatnya mereka harus menyadari bahwa apa yang mereka lakukan, yaitu “mengemis” jabatan, akan menyebabkan rontoknya keimanan mereka. Sudah saatnya pula mereka sadar, bahwa memikul amanah jabatan adalah sebuah tanggung jawab yang besar di sisi Alloh, sebab pemimpin akan ditanyai tentang apa yang telah dipimpinnya. Tidakkah mereka memandang amanah jabatan sebagai sesuatu yang berat?!
Keadaan yang jauh lebih mengerikan lagi bagi mereka adalah ketika memimpin di atas sistem demokrasi. Sedang demokrasi adalah sebuah sistem aturan yang berasal dari musuh-musuh Islam agar kaum muslimin berpaling dari keyakinan agamanya.
Wallohul musta’an.
Jogja, 6 Robiul Akhir 1430 H
Paiman bin Bandi al-Klateni
Related Articles
Download Audio
- Menyoal Partai Islam
- Apakah Berdakwah Melalui Partai Itu Bid’ah?
- Mayoritas Bukan Ukuran Kebenaran
- Golput “Haram”?
- Kenapa Salafiyyin Menolak Demokrasi tetapi Menerima Hasilnya?
Powered by Ashaby and ProblemaMuslim
April 7, 2009 at 8:04 am
wah ini baru menyemangatkan ana. ana juga setuju orang-orang mengemis jabatan, mungkin nggak ngaca ya….ia mengatakan kalau bukan dengan jalan ini (partai/dakwah melalui partai) tidak akan berhasil…..banyak sekali ayat-ayat al’quran yang di gunakan untuk menjadi hujah, Astahgfirlloh….
kirimkan sebuah artikel ke email ana ” simensmen@ymail.com” salam Ta’aruf…..ad-damam Lampung
April 12, 2009 at 1:16 am
ketika saya disuruh menjualkan kalung ibu saya,karena capek ngontel saya membeli teh di angkringan untuk sekedar menghilangkan dahaga…penjual bertanya “mas piye pemilune menang sopo?” kata saya ” mboten ngertos wong kulo mboten nyoblos” dia tanya lagi
” lha ngopo mas ra nyoblos?” kata saya ” kulo mboten percoyo partai partai niku mung do nggombal kabeh…ngapusi” dia berkata “ooo berarti njenengan prinsipe koyo anaku,anaku diundangi nggih mboten mangkat,jarene ra penting”.kata syaikh Salim menukil sebuah syair di dalam kitab manhajul anbiya’ fi tazkiyatin nufus…
innad dunnya jifatun
wu tullabuha kilabun
atau yang semakna dengan itu ,artinya: DUNIA ADALAH BANGKAI…DAN PARA PENCARINYA ADALAH ANJING-ANJING.
kata orang-orang dikampungku sekarang ini ada banyak anjing-anjing yang gila.aku berpikir apakah anjing-anjing itu gila karena tidak kebagian bangkai apa ya…?ah ga tahulah