Yang jelas, mereka yang HANYA, sekali lagi HANYA, mencari ilmu (syar’i) lewat buku-buku dan kaset-kaset rekaman dan TIDAK mau hadir di majelis-majelis taklim adalah orang-orang yang BANGKRUT alias RUGI.
Memang, salah satu kecenderungan “manusia modern” saat ini adalah efisiensi waktu, sehingga untuk memperoleh informasi –termasuk informasi agama- mereka tidak perlu capek-capek (bersusah payah) datang ke sebuah tempat-tempat pengajian.
Namun, model manusia muslim modern yang begini ini, yang meninggalkan dunia taklim dan HANYA mencukupkan diri dengan buku-buku dan kaset-kaset rekaman, sungguh ia benar-benar berada dalam kerugian yang teramat besar.
Kenapa?
Ketahuilah, bahwa hadir di majelis ilmu, bersimpuh di hadapan guru, ternyata tidak melulu untuk mengambil ilmu, tetapi lebih dari itu. Bahkan, dahulu mereka para ulama salaf, dengan sengaja duduk di hadapan gurunya bukan untuk mengambil ilmu, tetapi untuk mengambil perangai, penampilan dan akhlak sang guru.
Ibnu Muflih rohimahuloh berkata: “Dahulu majelis (Al-Imam) Ahmad dihadiri sekitar 5000 orang atau lebih. Yang menulis kurang dari 500 orang. Adapun sisanya, belajar adab dan samt (perilaku) yang baik dari beliau.” (Al-Adab Asy-Syar’iyyah, 2/12)
Ibnul Jauzi rohimahulloh berkata: “Sungguh dahulu ada sekelompok salaf yang sengaja pergi menuju seorang hamba yang sholih untuk melihat samt dan hadyu (tingkah laku dan cara hidup), bukan untuk mengambil ilmunya. Karena hadyu dan samt merupakan buah dari ilmunya.” (Shoidul Khotir, hal. 216)
Abdurrohman bin Mahdi rohimahulloh berkata: “Dahulu kami mendatangi seseorang bukan karena menginginkan ilmunya, tetapi untuk belajar dari hadyu, samt dan dall (keadaan seseorang berupa ketenangan, kewibawaan, baiknya perjalanan dan cara hidupnya) yang dimilikinya.” (Al-Adab Asy-Syar’iyyah, 2/149)
Beliau juga berkata: “Dahulu ‘Ali ibnul Madini dan yang lainnya menghadiri majelis Yahya bin Sa’id Al-Qoththon bukan karena ingin mendengarkan sesuatu, melainkan karena ingin melihat hadyu dan samt beliau.” (Al-Adab Asy-Syar’iyyah, 2/149)
Al-Imam Malik mengisahkan: “Aku berkata kepada ibuku, ‘Aku akan pergi untuk belajar.’ ‘Kemarilah!’ kata ibuku, ‘Pakailah pakaian ilmu! Lalu ibuku memakaikan aku mismaroh (suatu jenis pakaian) dan meletakkan peci di kepalaku, kemudian memakaikan sorban di atas peci itu. Setelah itu dia berpesan, ‘Sekarang, pergilah kepada Robi’ah! Pelajarilah adabnya sebelum engkau pelajari ilmunya!’.” (Warotsatul Anbiya’, hal. 39)
Pembaca yang semoga dirahmati Alloh Subhanahu wa Ta’ala, orang yang HANYA membaca buku atau mendengar rekaman-rekaman kajian tentu tidak bisa melihat samt atau hadyu-nya sang guru (para ustadz atau syaikh). Dan ini, tentu adalah suatu kerugian yang besar. Kita janganlah lupa bahwa samt dan ilmu itu berpasangan. Samt tidaklah akan sempurna kecuali dengan ilmu, dan ilmu juga tidak akan sempurna kecuali dengan samt. Nah, dengan hadirnya kita di majelis-majelis ilmu, kita akan mendapatkan dua hal tersebut sekaligus.
Berkata Asy-Syaikh Sholih bin Abdul Aziz Ali Syaikh ketika ditanya tentang sebagian pemuda yang hanya bersandar pada kaset-kaset dalam menuntut ilmu, dimana mereka menggampangkan dalam duduk di halaqoh-halaqoh (tempat pengajian) dengan alasan bahwa pelajaran Syaikh ini direkam dan ada kasetnya: “Mendengarkan secara langsung dengan menghadiri pelajaran-pelajaran terdapat beberapa manfaat yang tidak dijumpai dari hanya mendengarkan ilmu (melalui kaset saja). Tidak dapat diragukan lagi bahwa mendengarkan ilmu melalui kaset terdapat faedah dan banyak manfaatnya, karena engkau mendengarkan ilmu dari ahli ilmu yang kokoh ilmunya, akan tetapi di sana terdapat perkara-perkara lain yang tidak didapati jika kita mendengarkan ilmu hanya melalui kaset-kaset diantaranya:
- Duduk bersama para penuntut ilmu lainnya dalam sebuah halaqoh di masjid, hal ini memberikan perkara-perkara ibadah dan jiwa bagi penuntut ilmu.
- Mengambil manfaat dari petunjuk pengajar dalam ucapan, pandangan, pendidikan dan pengajarannya, cara mengingatkannya, jalannya, cara menyelesaikan perkara, bagaimana ketika menghadapi suatu perkara, bagaimana cara menjawab, bagaimana bermualamah dengan orang yang menyalahinya, dengan orang yang kurang baik adabnya, dengan orang-orang yang memuliakan secara berlebih-lebihan. Semua adab-adab ini diperoleh dari petunjuk para ulama dengan cara duduk menuntut ilmu di hadapan mereka.
- Selain itu ada hal-hal berupa ibadah (yang dapat dicontoh dari para ulama) seperti rasa takut kepada Alloh Jalla Jalaluhu. Sedangkan engkau jika melihat para ulama dalam membimbing manusia dalam beribadah, berdzikir, dan kesungguhan mereka dalam berbuat kebaikan, engkau akan terpengaruh dalam suatu perkara yang engkau memerlukannya yaitu istiqomah dan ketekunan dalam ibadah kepada Alloh Jalla Jalaluhu.
Adapun mendengar ilmu melalui kaset, kamu hanya dapat mendengarkan ilmu akan tetapi tidak dapat melihat petunjuk para ulama, ibadahnya, sholatnya, kesegeraannya ke masjid, kesungguhannya untuk mengkhatamkan Al-Qur’an, hafalannya, sholat malamnya dan semisal itu, yang mana hal-hal tersebut hanyalah didapati dari berguru dan mendengarkan ilmu secara langsung. Oleh karena itu Ibnul Jauzi rohimahulloh berkata : “Guru kami itu, tidaklah kami hadir di majlisnya kecuali manfaat yang kami dapati dari tangisannya (karena takut kepada Alloh Jalla Jalaluhu), melebihi manfaat yang kami dapati dari ilmunya”.
Beliau mendapatkan ilmu dari guru beliau, akan tetapi faedah yang beliau dapatkan dari tangisan, rasa takut guru beliau kepada Alloh Jalla Jalaluhu, dan sikap waro’nya, lebih banyak dari mendapatkan ilmu guru beliau. Hal-hal ini memberikan pengaruh bagi penuntut ilmu.
Sesungguhnya penuntut ilmu itu akan sangat terpengaruh oleh sosok kepribadian seorang guru dan akhlaknya, bagaimana gurunya bermu’amalah dan bagaimana gurunya menangis karena takut kepada Alloh Jalla Jalaluhu, bagaimana gurunya sholat, bagaimana gurunya banyak membaca Al-Qur’an, bagaimana ke-khusyu’-annya, bagaimana ia bermuamalah dengan keluarganya. Sedangkan mendengarkan kaset tidak mengetahui hal-hal seperti itu. Mendengarkan ilmu melalui kaset itu penting, akan tetapi seseorang harus berguru dihadapan ulama sehingga tidak luput darinya sisi-sisi kebaikan lainnya.”
Wallohu a’lam bish-showab.
Jogja, 23 Robiul Akhir 1430 H
Paiman bin Bandi al-Klateni
April 19, 2009 at 9:14 pm
Bismillah, assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Barakallahufiyk.. Boleh tahu kitab rujukan antum saat menulis risalah ini? Sebelum dan sesudahnya jazakumullahu khairan.
April 20, 2009 at 1:21 pm
kutipan:
“Yang jelas, mereka yang HANYA, sekali lagi HANYA, mencari ilmu (syar’i) lewat buku-buku dan kaset-kaset rekaman dan TIDAK mau hadir di majelis-majelis taklim adalah orang-orang yang geblek, sinting, gila, stress, tidak waras dan sakit jiwa.”
akh, apakah tidak ada kata yang lebih halus dari kata2 geblek, gila, stress, dst..??
ana harap jangan pukul rata menyalahkan orang yg memang belum mendapatkan kesempatan duduk langsung di majlis ilmu. memang duduk langsung dalam majlis ilmu itu lebih afdhal, akan tetapi mungkin ada sebagian saudara kita yang memang ada kondisi tertentu yang membuat dia tidak bisa duduk di majlis ilmu. dan mempelajari ilmu dari rekaman dan buku pun merupakan suatu kemudahan yg telah di berikan Allah kepada kita, termasuk saudara-saudara kita yang memang belum memliki kesempatan…
ana harap antum bisa bijak akhi.
barokallahu fikum
April 23, 2009 at 9:25 am
kutipan terakhir:
“Sesungguhnya penuntut ilmu itu akan sangat terpengaruh oleh sosok kepribadian seorang guru dan akhlaknya, …”
ya akhi..silakan antum renungi apa yang antum tulis tersebut..
afwan ajah, setahu ana ustadz2 di jogja ga kasar deh kata2 mereka ketika menulis ato ngisi kajian. ana sering dengerin rekaman kajian ust abdul mu’thi.. masya Allah..beliau bagus banget..
afwan ya akhi, ana hanya ingin mengingatkan saja, karena ana pun sebenarnya juga masih belajar…
kita sama2 belajar dan sama2 saling menasihati jika ada kesalahan..karena begitulah ahlussunnah…
ana sangat berharap tulisan2 antum berikutnya bisa lebih halus kata2nya dalam menasihati…ingat,apa yg kita ucapkan, tulis, itulah mencerminkan diri kita…
May 2, 2009 at 7:42 pm
Assalamu’alaikum
Antum sendiri gimana, ya akhi?
Afwan ya, tapi ana jarang lihat muka antum di majelis taklim. Antum mau dianggap seperti apa yang antum tuliskan? Apakah tidak hadir ke majelis ilmu bisa dipastikan dia seperti yang antum katakan?
Bagaimana kita sendiri? Jangan tulis sesuatu yang kita sulit mempertanggungjawabkannya.
Haasibu anfusakum qabla an tuhaasabu…
Wallahu a’lam…
Akhi, mangkat taklim lagi yuk. Minta sepeda sama Abi… yang second nggak masalah asal bisa dianiki ke Al-Hasanah. Banyak ikhwan lain nyepeda kalo taklim, padahal rumahnya juga jauh…
Ihris… walaa ta’jaz…