Kepada Penganut Tarekat Sufi

Kepada kaum yang tidak disukai, yang Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda tentangnya: “Akan ada di kalangan umat ini, suatu kaum yang kelewat batas dalam bersuci dan berdoa” (HR. Abu Dawud), yaitu yang berdoa dengan berteriak-teriak dan untuk sesuatu yang tidak layak. Belumkah sampai di telinga kalian firman Alloh: “Berdoalah kepada Robb-mu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas” (Al-A’roof: 55) ?!

Kepada kaum yang “mabuk dzikir”, yang kurang puas dengan bacaan-bacaan dzikir yang telah dituntunkan oleh Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam, yaitu yang mengarang sholawat-sholawat baru, menambah-nambahi bacaan dzikir di tempat yang tidak semestinya, yang berdzikir sambil ditabuhi musik, dan yang berdzikir dengan berdiri menari-nari berputar-putar sempoyongan seperti orang kesurupan hingga mereka tidak ingat apa-apa. Tidakkah kalian ketahui, bahwa arti dzikir adalah ingat, dan dzikir itu adalah untuk mengingat Alloh?! Kalau kalian tahu, kenapa “puncak dzikir” versi kalian adalah ketika kalian berada di alam bawah sadar?!

Kepada kaum yang sesat, yang meyakini bahwa Alloh adalah panca indera dan organ tubuh manusia, yang percaya bahwa Alloh ada di mana-mana, yang beranggapan bahwa mereka adalah Alloh itu sendiri. Maha Suci Alloh dari apa yang kalian yakini! Ketahuilah, bahwa Alloh itu berada di atas langit, Dia bersemayam di atas ‘Arsy, dan bukan berada di tubuh-tubuh kalian!!!

Alloh Azza wa Jalla berfirman: “Sesungguhnya Robb-mu ialah Alloh yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy…” (Al-A’roof: 54)

Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam bertanya (kepada seorang budak wanita): ‘Di mana Alloh?’ Budak wanita itu menjawab: ‘Di (atas) langit.’ Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kembali: ‘Siapa saya?’ ‘Anda Rosululloh,’ jawab budak wanita itu. Kata Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Bebaskan dia. Karena sesungguhnya dia seorang wanita yang beriman’.” (HR. Abu Dawud. Dishohihkan Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rohimahullohu dalam Sunan Abi Dawud, no. 930)

Imam Asy-Syafi’i rohimahulloh berkata, “Sesungguhnya Allah berada di atas ‘Arsy-Nya, di atas langit…” (Dikeluarkan oleh Al-Hakawi di dalam kitab Aqidah Asy-Syafi’i)

Inilah sebagian amalan dan keyakinan kalian yang mengharuskan kalian senantiasa berada dalam kesesatan. Sungguh kalian benar-benar telah sampai sekian jauh terperosok ke dalam bid’ah dan khurofat. Sesat dan sungguh sesat ajaran kalian. Kalian tidak akan pernah bisa tegak dalam kebaikan kecuali dengan meninggalkan amalan-amalan bid’ah dan keyakinan-keyakinan bathil kalian. Kalian tidak memiliki sandaran keimanan dan aqidah yang benar. Kalian tidak memiliki landasan dalil yang kuat dalam beramal. Kalian hanya melakukan amalan-amalan yang berlandaskan pada hawa nafsu semata.

Terhadap kaum yang sesat (Sufi) tersebut, aku katakan -ini juga dikatakan oleh setiap muslim yang jujur- : Janganlah kalian bodoh! Janganlah kalian berbuat kebid’ahan (lagi)! Dan janganlah kalian terpesona dengan apa yang telah kalian peroleh berupa “kenikmatan” yang menipu! Sesungguhnya, demi Alloh, keselamatan adalah dengan menempuh jalan Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam dan kebinasaan adalah karena menyimpang darinya.

Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh aku telah tinggalkan kalian di atas sesuatu yang putih bersih, malamnya seperti siangnya. Tidaklah seseorang pun menyimpang darinya melainkan pasti binasa.”

Beliau kabarkan bahwa kebinasaan adalah karena menyimpang darinya dan berpaling dari aturannya. Inilah yang Alloh tetapkan dalam firman-Nya: “Dan sesungguhnya inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan yang lain karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya.” (Al-An’am: 153)

Dan Alloh tetapkan pula dalam firman-Nya: “Kemudian Kami jadikan engkau berada di atas suatu syari’at dari urusan (agama), maka ikutilah syari’at itu dan janganlah engkau ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikit pun dari siksaan Alloh. Dan sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan Alloh adalah pelindung orang-orang yang bertakwa.” (Al-Jatsiyah: 18-19)

Wahai para penganut tarekat Sufi, sampai kapan kalian cenderung melakukan amalan-amalan sinting kalian itu?! Sampai kapan kalian hidup layaknya keledai?! Sampai kapan?! Sampai kapan?! Sampai kapan?! Mana orang-orang yang berakal jernih di tengah-tengah kalian?! Mana para ulama kalian?! Mana para cendekiawan kalian?! Mana?!

Apakah kalian, wahai para ahli tarekat, memiliki hukum-hukum syari’at sendiri selain hukum-hukum umum untuk seluruh umat Islam?? Demi Alloh, dosa yang kalian lakukan itu jauh lebih besar daripada dosa pelaku maksiat biasa sebab kalian telah menganggap perbuatan bid’ah itu sebagai bentuk ibadah yang disyari’atkan sehingga kalian telah membuat syari’at agama untuk diri kalian sendiri yang tidak pernah diperkenankan Alloh sama sekali.

Demi Alloh, kalian hanya bisa selamat jika kalian kembali pada ajaran Islam yang benar, yakni ajaran yang tidak ghuluw (berlebihan) dalam beribadah dan dalam menetapkan sifat-sifat Alloh dan selalu bersikap pertengahan dalam setiap perkara. Inilah jalan yang diperintahkan Alloh Ta’ala dan yang ditempuh Rosul-Nya Shollallohu ‘alaihi wasallam hingga beliau wafat. Alloh Ta’ala berfirman: “Dan demikian (pula) Kami telah jadikan kalian (umat Islam), umat yang pertengahan dan pilihan, agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rosul (Muhammad Shollallohu ‘alaihi wasallam) menjadi saksi atas (perbuatan) kalian.” (Al-Baqoroh: 143)

Tidakkah hal ini menggerakkan akal dan pikiran kalian untuk segera membuang jauh-jauh seluruh bid’ah yang pernah kalian lakukan? Tidakkah sudah tiba masanya untuk menjalani syari’at ini sesuai dengan tuntunan yang ada? Beraqidah yang lurus, beribadah yang benar yang bersumber dari Kitabulloh dan Sunnah Rosul-Nya serta manhaj as-salafush sholih. Demi Alloh, tidak akan baik kondisi suatu umat kecuali dengan apa yang telah membuat baik kondisi generasi awal umat ini.

Ya Alloh, wujudkan untuk umat ini dalam perkara yang benar, jauhkan darinya perkara-perkara bid’ah yang menyesatkan, dan jauhkanlah dari pemikiran-pemikiran yang nyleneh dalam agama-Mu yang haq ini. Ya Alloh, tinggikanlah kalimat-Mu, muliakanlah agama-Mu, dan muliakanlah dengannya kaum muslimin, bimbinglah mereka kepada-Mu dan kepada agama-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar (Mengabulkan) do’a.


Jogja, 27 Robiul Akhir 1430 H

Paiman bin Bandi al-Klateni

Related Articles

10 Responses to “Kepada Penganut Tarekat Sufi”

  1. bintu ahmad Says:

    Bismillahi, assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Apa saja rincian makna “umat”? Apa bedanya umat, manhaj, firqah? Sebelum dan sesudahnya jazakumullahu khairan wa Barakallahu fiykum.

  2. hinakelana414 Says:

    Assalamuallaikum.wr.wb.
    Wah masya iya seeh, tasawuf banyak mengajarkan kesesatan seperti yang anda katakan, kayanya tasawuf adalah ilmu yang baik tidak semua tarekat itu buruk…
    Ilmu tasawuf menurut saya yang hina ini adalah masalah rasa jiwa, kalau belum merasakan memang susah..
    “Man Lam Yazuq Lam Yadri” Siapa tak rasa tak tahu!!!

    Wa’alaikumussalam.
    Silakan baca (kembali) Related Articles dengan hati dan pikiran yang jernih..

  3. sontoloyo Says:

    sebaiknya anda tobat nasuha deh…dasar ilmu cetek berlagak pinter…berlagak tau agama..dasar goblok dasar dajal

    terimalah nasihat dari manapun datangnya dan siapapun orangnya, bila itu memang sebuah kebenaran. jangan hanya karena ana dulunya bajingan antum menolak hal ini. pelajari baik-baik Related Articles yang ana bawakan di atas. semoga Alloh senantiasa memberi kita petunjuk ke jalan yang lurus.

    ya Alloh, tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. Amiin.

  4. zezz Says:

    Assalamualaikum..
    Mudah2an Antum mendapatkan hidayah ilmu dari Allah, sehingga bisa menerima dunia tarekat.
    sejujurnya saya sangat sedih dengan pemikiran antum..
    carilah guru2 yang mempunyai nasab ilmu sampai kerasulullah.. ulama2 besar,
    jangan hanya belajar dari buku ataupun ustat2 muda yg baru hidup di zaman ini.

    Demikian

    Wassalam

    Wa’alaikumussalam warohmatulloh..
    Mudah2an do’a antum tersebut tidak terkabul, karena kami tahu persis bhw dunia tarekat adalah dunia bid’ah dan khurofat. Sedang bid’ah itu seluruhnya tercela dan sesat.

  5. taufik Says:

    sebaiknya antum mengaji sama ulama2 yang benar dan soleh khususnya ama habaib bukan ama ustad2 yang kacangan apalagi hanya membaca buku sendiri tanpa ada yang bimbing itu temannya setan sehingga pengertian antum gak tersesat, khususnya mengenai tarekat, karena kebodohannya antum dan salahnya mencari guru ngaji sehingga antum terlalu cepat menganggap orang lain salah dan bid’ah saran ana antum cepat2 tobat nasuha mohon ampum kepada Allah SWT atas kesalahan dan kebodohannya antum, amin

    wahai orang yg sombong, yg menolak kebenaran dan merendahkan orang lain, bertaqwalah kamu kpd Alloh. Akuilah kebid’ahan-kebid’ahan itu, dan bertaubatlah… bila antum masih sempat baca komentar balasan ini, itu artinya masih ada kesempatan utk bertaubat. jadilah engkau ahlus sunnah, bukan ahlut thoriqot au ahlul bid’ah. sebab, ahlul bid’ah adalah musuh dan penghancur syariat.

  6. taufik Says:

    makanya kepada sdr paiman kalo mau komentar hrs tahu dulu ilmunya jgn hanya sembarangan ngomong dan mengatakan bahwa tarekat itu sesat, bid’ah, anda kan mengerti tarekat hanya kulitnya saja gak ngerti apa itu tarekat, sedangkan para habaib dan ulama2 besar gak berani sembarangan mengatakan tarekat itu sesat dan bid’ah, belajarlah antum kpd zurriah rosullalah jgn sembarangan ngaji belajarlah kepada para habaib dan ulama yang soleh sehingga antum menjdi orang yang arif dan berahlak mulia, sehingga terpelihara dari menghujat dan merasa diri paling benar, amin.

    ana tahu ttg dunia tarekat. ana sudah pelajari baik2 dunia tarekat sufi, yakni melalui majalah Al-Kisah, sebuah majalah tarekat yg (ternyata) sebagian besar isinya ttg kisah2 bualan. ana tdk akan bicara banyak soal Al-Kisah. di sini, ana cuman kasih saran aja ke antum. sebaiknya antum pelajari biografi Asy-Syaikh Muhammad Rosyid Ridho Rohimahulloh. beliau adalah seorang ulama besar yg dulunya bergelut dg dunia tarekat tetapi kemudian jelas baginya bhw amalan dan ajaran yg ada pd tarekat2 itu jauh dari nilai2 syari’at yg murni. lalu beliaupun meninggalkan dunia tarekat dan akhirnya pindah ke pangkuan aqidah salaf.

  7. taufik Says:

    terima kasih atas saran antum, tetapi ana sudah mengatakan ama antum jgn kita belajar sendiri hanya dari buku atau majalah karena itu membuat seseorang jadi salah menafsirkan hadist atau al quran, belajarlah dengan seorang habib/ulama yang bimbing kita agar tidak salah dalam menafsirkan hadist atau qur’an banyak saat ini orang salah kaprah dalam menafsirkan hadist atau al qur’an karena dia hanya belajar sendiri dengan buku apalagi majalah, belajar sendiri tanpa ada guru, akan cenderung orang tsb jadi sesat, dan temannya setan, coba antum pikirkan baik2 saran ana ini.

    yg menjadi permasalahan di sini bukanlah masalah belajar sendiri atau belajar sama habib, tetapi menyoal benar tidaknya aqidah, ibadah, dan amalan tarekat. cukuplah bagi kita semua seluruh kaum muslimin akan apa yg dialami oleh Asy-Syaikh Muhammad Rosyid Ridho Rohimahulloh. beliau sdh belajar sama “habib”, dan bagaimanakah kesudahannya? beliaupun akhirnya sadar akan kesesatan2 tarekat. hal ini seharusnya memberikan pelajaran bagi kita semua utk tdk menempuh jalan tarekat dlm menegakkan dien yg mulia ini.

  8. Anwar Nashir Says:

    Paiman, ada diskusi ringan di forum brawijaya antara wahabi dan penganut tashawuf, situ ikutan deh biar seru. Kasihan wahabi udah lama gak bisa menang.

  9. poer Says:

    assalamu’alaikum
    saya adalah pengikut salah satu tarekat,mungkin anda sudah paham apa arti tarekat yaitu jalan (thoriq) yaitu jalan untuk mendekat kepada Allah Yang Maha Hak.

    jalan utk mendekatkan diri kpd Alloh itu seharusnya dg berilmu ttg Alloh dg benar dan beribadah sesuai tuntunan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, dan bukan dg -wal ‘iyadzubillah- belajar ilmu laduni biar tubuhnya kebal atau biar bisa sholat di atas air dlsb, juga bukan dg beribadah gaya gangsing, yakni memutar-mutarkan tubuh sampai pusing atau tdk sadarkan diri. Allohul musta’an.

  10. dewa Says:

    hmmm,saudara2 ku yg mnjalani mujahadah(apapun nama nya misal:tarekat/salafi/kundalini/meditasi apapun)dalam al islam,sungguh,aku merasa sangat sedih…islam yg dibawa muhammad bin abdullah,kenapa jadi seperti ini…pernah nabi bersabda bahwa perbedaan pendapat itu rakhmat bagi kalian…bagi ku,aku tidak peduli segala nama/istilah seperti wahabi/tarekat/salafi/kundalini/meditasi2 lain…bagaimanakah jalannya utk mnjadi orang shidiq berdasarkan Allah dan rosul-Nya di bumi ini?bagaimanakah saling menasehati dalam kesabaran dan sabar dlm menasehati?kalian pasti tahu ttg wawasan ini…takutlah kepada Allah dan ingatlah al iblis itu pintar tak terduga dlm mmbinasakan umat islam..aku sedih benar al islam disampaikan dgn ucapan2 hujatan kasar…ingatlah al iblis itu musuh yg nyata…wahai saudara2 ku yg rindu kebenaran,kalian yg mengetahui mana yg musuh Allah dan yg bukan,mari kita berpegang teguh kepada al islam yg langsung diajarkan oleh muhammad bin abdullah secara lahir dan batin yg disampaikan secara turun temurun(yg dijaga langsung oleh ALLAH)..aku benci melihat orang yg dibenci ALLAH..
    aku tanya kepada umat muslim sekarang,bagaimanakah para mubaligh di jawa/sumatera/pulau lainnya tempo dulu berdakwa terhadap para resi umat hindu yg sakti nya bukan main atau thdp para perampok kejam yg ilmu hitamnya sakti bukan maen?
    mmmm,saudara2ku, apakah saudara paiman ini salah satu yg dibenci oleh ALLAH atau bukan?mari kita saling mngingatkan bahwa al islam itu langsung dijaga ALLAH..
    ingatlah syekh ibnu taimiyah/imam al ghozali dulu nya pernah seperti saudara paiman ini…hujatan nya begitu pedas.. ibnu taimiyah/alghozali pun pedas hujatannya,namun akhirnya bisa kita lihat sndiri kisah2 mereka di dlm sejarah..

    ana mohon maaf bila dlm tulisan ana tersebut dirasa terlalu kasar. tp perlu kami tegaskan di sini, bahwa membantah ahlul bid’ah, men-jarh mereka dan memperingatkan (tahdzir) manusia dari mereka merupakan perkara pokok dalam Islam. mengapa? karena yg demikian merupakan amar ma’ruf nahi mungkar yang paling penting dan juga merupakan nasihat yang terpenting kepada kaum muslimin.

    kita tentu sepakat bahwa syariat Islam ini telah sempurna dan tidak memerlukan tambahan atau pun perubahan apalagi pengganti. Karena Alloh berfirman: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu dan telah Aku sempurnakan pula nikmat-Ku atasmu serta Aku ridhoi Islam sebagai agamamu.” (Al Maidah: 3)

    adapun yg kami sampaikan dlm tulisan ini adalah memperingatkan kepada mereka (shufiyyun) agar segera meninggalkan berbagai amalan2 bid’ah yg mereka kerjakan. sebagai sesama muslim yg panutannya adalah Rosululloh Muhammad bin Abdulloh tentu kita kasihan melihat mereka beramal tp tdk sesuai dg tuntunan syari’at. padahal Rosululloh Shollallohu alaihi wasallam sendiri bersabda: “Barang siapa mengamalkan satu amalan yang tidak ada padanya urusan kami maka tertolak.” (Riwayat Muslim)

    dan perlu kami sampaikan juga di sini perkataan Al-Allamah lbnu Hazm terkait masalah hadits yg antum sebutkan, yakni ‘Perbedaan (pendapat) di kalangan umatku adalah rahmat’. Beliau berkata: “ltu bukan hadits, bahkan ia hadits batil dan dusta, sebab jika perbedaan pendapat (khilafiyah) adalah rahmat, niscaya kesepakatan (ittifaq ) adalah sesuatu yang dibenci. Hal yang tak mungkin diucapkan oleh seorang muslim.”

    berhati-hatilah, ya akhi.. dalam membawakan suatu hadist. Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Salam pernah memperingatkan dari hadits-hadits maudhu’ (palsu), dengan sabdanya, “Barangsiapa berdusta atasku dengan sengaja, maka hendaknya ia menempati tempat duduknya di Neraka.” (Muttafaq ‘alaih)

    Rosululloh juga bersabda: “Barangsiapa berbohong atasku (dengan mengatakan) sesuatu yang tidak aku katakan, maka hendaknya ia menempati tempat duduknya di Neraka.” (HR. Ahmad, hadits hasan)

Leave a Reply