Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Agama adalah nasihat”. “Bagi siapa, ya Rosululloh?” tanya para shohabat. Beliau menjawab, “Bagi Alloh, Rosul-Nya, Kitab-Nya, bagi para pemimpin Islam, dan bagi kaum muslimin umumnya.” (HR. Tirmidzi)
Pembaca, saya berharap Anda semua mau menerima nasihat dalam bentuk apa pun dan dari mana pun datangnya. Mampukah Anda melakukannya? Maukah Anda meng-iya-kan seseorang yang menunjukkan “aib” dan menceramahi Anda agar menjauhinya? Percayalah, bila Anda menerima dengan lapang, orang lain dengan mudah menerima ujaran-ujaran Anda dan tidak akan membantah.
Kepada mereka yang enggan menerima nasihat, coba dengarkan firman Alloh, “Dan apabila dikatakan kepadanya: ‘Bertakwalah kepada Alloh’, bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. Dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya.” (Al-Baqoroh: 206)
Jangan sekali-kali Anda menganggap bahwa nasihat bertujuan menelanjangi dan mengerdilkan Anda. Semua itu jelas tidak benar. Sebelumnya perlu Anda ingat, bahwa mereka yang mengingatkan Anda adalah pribadi yang sangat mencintai Anda.
Nasihat memiliki peran penting dalam kehidupan. Nasihat merupakan sarana yang sengaja Alloh ciptakan untuk meluruskan masyarakat. Alloh berfirman, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar…” (Ali Imron: 110)
Demikianlah, kita memang harus menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran agar sebutan “umat terbaik” benar-benar terbukti. Sebab, kita menasihati di jalan Alloh. Islam telah sejak lama dikenal sebagai umat yang saling mengingatkan, saling menasihati. Maka tidak mengherankan kemudian bila Islam layak meraih prestasi besarnya kala itu. Ya, kita akan kembali untuk saling nasihat-menasihati dan saling bantu-membantu dalam melakukan kebajikan hingga Alloh mengubah kondisi kita ke arah yang lebih baik. Sungguh, tidak ada kebaikan yang dapat diharapkan dari umat yang enggan untuk saling menasihati dan umat yang tidak mau menerima nasihat.
Wallohu a’lam bish-showab.
Jogja, 16 Jumadil Awal 1430 H
Paiman bin Bandi al-Klateni
Related Articles
May 12, 2009 at 7:50 am
Bismillah
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Related artikel yang antum bawakan, baiknya ambil dari: http://fdawj.atspace.org/awwb/th2/15.htm (untuk artikel Agama Itu Nasihat)
Related artikel poin ke-dua (Lapangkan Hatimu …) baiknya tidak perlu ditampilkan. Barakallahu fiykum.
July 22, 2009 at 3:07 pm
terima kasih atas nasihat antum, tetapi dijaman skrg ana harus hati2 dengan ajaran yang antum sarankan, karena ciri khas orang yang dimurkai dan dilaknat oleh Allah adalah yang mudah menafsirkan org lain sesat, bid’ah dan lain sebagainya itu ciri2 orang yang zolim, lihatlah para habaib bersih hatinya dan lidahnya dengan tidak sembarang memfitnah orang, ana sangat kagum padanya, ulama2 yang soleh dan habiab adalah panutan ana karena dialah yang menafsirkan hadits dan al qur’an yang benar, ya Allah lindungilah hambamu dari orang2 yang senang memfitnah
July 27, 2009 at 10:30 am
terima kasih atas nasihat antum, tetapi diakhir jaman ini sudah banyak sekali orang yg merusak akidah orang lain dengan senjata pamungkasnya BID’AH semua orang yang gak sesuai dengan kelompoknya dibilang bid’ah, ini yg sangat keliru apalagi antum bilang pengikut tarekat sesat, masya allah, antum baru tau ttg tarekat hanya kulitnya saja, segamppang dan seberani itu antum bilang sesat, sedangkan para habaib dan ulama2 besar yang sudah puluhan tahun bermukim di mekah atau madinah gak pernah bilang tarekat itu sesat, cepatlah antum tobat nasuha, mohon ampun.
October 21, 2009 at 9:26 pm
Barakallahu fiik, Mudah2an Allah beri kekuatan dan keteguhan kepada kita…dari para pencerca dan pengikut hawa nafsu…
Tetap smangat ngaji…and di upload kajiannya di sini…he he…Ana tunggu…