Kepada Para Pengingkar Takdir

Ada kelompok manusia yang berlebihan dalam menolak takdir. Mereka menyatakan bahwa Alloh tidak menakdirkan perbuatan seorang hamba. Hamba berbuat dengan pilihan dan kemampuan sendiri tanpa terikat dengan takdir Alloh. Di antara mereka ada yang sampai menafikan ilmu Alloh terkait apa yang akan terjadi dan di antaranya mengimaninya. Mereka di masa sekarang adalah yang menetapkan ilmu Alloh, tetapi menolak takdir Alloh pada para hamba-Nya. Merekalah yang disebut Qodariyah.

Kepada mereka para pengingkar takdir tersebut (Qodariyah), kami katakan, tidakkah kalian ketahui bahwa takdir merupakan salah satu rukun iman? Pengingkaran kepada takdir berarti mencacati salah satu rukun iman. Seseorang yang rukun imannya cacat, tidak sempurna, tidak lengkap, maka dia bukanlah  orang yang beriman.

Berkata Ibnu ‘Umar rodliyallohu ‘anhuma, “Demi Dzat yang jiwa Ibnu ‘Umar berada di tangan-Nya, seandainya salah seorang dari mereka memiliki emas sebesar gunung Uhud, lalu dia infakkan di jalan Alloh, niscaya tidak akan diterima oleh Alloh hingga ia beriman kepada takdir.” Kemudian Ibnu ‘Umar berdalil dengan sabda Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam, “Iman itu adalah, bahwasanya kamu beriman kepada Alloh, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rosul-rosulNya, hari Akhir dan beriman kepada qodar baik dan buruk.” (diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dalam Kitabul Iman)

Dan dari ‘Ubadah bin Ash-Shomit bahwasanya beliau berkata kepada anaknya.” Wahai anakku, sungguh kamu tidak dikatakan beriman kepada Alloh hingga kamu meyakini bahwa apa yang telah ditakdirkan atas dirimu pasti tidak akan luput darimu, dan apa yang telah ditakdirkan meleset darimu pasti tidak akan menimpamu. Aku telah mendengar Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhya awal yang Alloh ciptakan adalah Al-Qolam (pena), lalu Alloh berfirman kepadanya, ‘Tulislah!’ Pena itu menjawab, ‘Wahai Robb, apa yang hendak kutulis?’ Lalu Alloh berfirman, ‘Tulislah takdir segala sesuatu sampai terjadi hari kiamat’.” Wahai anakku, aku juga telah mendengar Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang mati tidak di atas keyakinan ini, maka ia tidak termasuk golonganku.”

Dalam satu riwayat Al-Imam Ahmad disebutkan: “Sesungguhnya, pertama kali yang Alloh ciptakan adalah Al-Qolam (pena), lalu Alloh berfirman kepadanya: ‘Tulislah!’ Maka berjalanlah pada saat itu apa yang terjadi sampai hari kiamat.” Dalam riwayat Ibnu Wahb, Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Maka barangsiapa yang tidak beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk, niscaya Alloh akan membakarnya dengan api neraka.”

Dan dalam Musnad dan Sunan, dari Ibnu Ad-Dailami, ia berkata, “Aku mendatangi Ubay bin Ka’b maka aku katakan kepadanya, ‘Di dalam diriku ada sesuatu (keraguan) tentang masalah takdir, maka sampaikanlah kepadaku suatu hadits, dengan harapan semoga Alloh menghilangkan keraguan itu dari hatiku’. Maka Ubay bin Ka’b berkata, ‘Seandainya kamu menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, Alloh tidak akan menerimanya darimu hingga kamu beriman kepada takdir dan kamu meyakini bahwa apa yang telah ditakdirkan mengenai dirimu pasti tidak akan menimpamu. Kalau seandainya kamu mati tidak di atas keyakinan ini sungguh kamu termasuk penduduk neraka’.”

Kata Ibnu Ad-Dailami selanjutnya, “Lalu akupun mendatangi ‘Abdulloh bin Mas’ud, Hudzaifah bin Al-Yaman dan Zaid bin Tsabit, semuanya membawakan kepadaku seperti hadits trsebut dari Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam.” (Hadits Shohih, diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Shohih-nya)

Ketahuilah, bahwa Alloh mengilmui segala sesuatu sebelum terjadinya baik secara global ataupun rinci. Alloh tahu apa yang sudah terjadi jika seandainya terjadi. Alloh berfirman, “Dan pada sisi Alloh-lah kunci-kunci semua yang ghoib, tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir  bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).” (Al-An’am: 59)

Segala sesuatu baik di langit maupun di bumi terjadi hanya karena kehendak Alloh. Sungguh, tanpa Alloh kehendaki tak sesuatupun bisa terwujud. Alloh berfirman, “Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: ‘Jadilah!’ Maka jadilah ia.” (Yasin: 82)

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Robbmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (Al-An’am: 112)

Ketahuilah bahwa akar dari kesalahan kalian, wahai kaum Qodariyah, adalah karena kalian tidak memahami hakikat irodah kauniyah dan irodah syar’iyah. Irodah kauniyah adalah kehendak Alloh terkait dengan takdir. Segala yang Dia kehendaki pasti terjadi dan yang tidak Dia kehendaki pasti tidak terjadi. Adapun irodah syar’iyah adalah kehendak Alloh terkait dengan syari’at. Alloh menghendaki kepada para hamba-Nya untuk melakukan sesuatu yang Alloh cintai atau untuk meninggalkan sesuatu yang Alloh benci. Dengan demikian irodah syar’iyah sesuai dengan kecintaan dan keridhoan Alloh terhadap sesuatu.

Sesungguhnya kewajiban kita adalah melaksanakan apa yang Alloh kehendaki secara syari’at yaitu yang dirihoi dan dicintai oleh-Nya sesuai dengan batas kemampuan kita. Kemudian kita bertawakal kepada-Nya terhadap semua takdir-Nya. Kita berusaha untuk tidak melakukan kekafiran dan kemaksiatan karena meskipun hal itu dikehendaki secara takdir namun Alloh tidak meridhoinya.

Alloh berfirman, “Jika kamu kafir, maka sesungguhnya Alloh tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhoi kekafiran bagi hamba-Nya, dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhoi bagimu kesyukuranmu itu, dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Robbmulah kembalimu lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan dalam (dada)mu.” (Az-Zumar: 7).

Wallohu a’lam bish-showab.

Jogja, 23 Jumadil Awal 1430 H

Paiman bin Bandi al-Kalteni

Related Articles:

Related Audios:

Leave a Reply