Dia adalah Syaikh Muhammad bin Sholih bin Muhammad Al-Utsaimin Al-Wuhaibi At-Tamimi. Salah seorang anggota Hai’ah Kibarul Ulama di Kerajaan Saudi Arabia. Dosen di cabang Universitas Al-Imam Muhammad Ibnu Sa’ud Al-Islamiyah di Qoshim. Imam dan Khotib di masjid besar kota Unaizah. Dia dilahirkan di Unaizah, tanggal 27 Romadhon 1347 Hijriyah.
Syaikh Muhammad bin Ibrohim Syaqroh hafizhahulloh berkata tentangnya, “Tidak pernah terdengar dari Ibnu Utsaimin rohimahulloh bahwa dia suka keluar dari Jazirah Arab dan mengunjungi daerah lain. Disebutkan darinya bahwa yang paling berhak akan ilmunya adalah penduduk negerinya sendiri. Pernyataan ini benar dan tidak seorangpun yang membantahnya dan tidak ada alasan yang lebih tepat dari itu. Ada sebuah riwayat yang shohih dari Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam tentang nafkah, dia bersabda:
“Mulailah dengan dirimu. Bersedekahlah untuknya. Jika berlebih, untuk keluargamu. Jika untuk keluargamu berlebih, untuk kerabatmu. Jika untuk kerabatmu berlebih, untuk seterusnya dan seterusnya…” (Al-Irwa’, 833; Musykilatul Faqri, I/51; Ma’a Robbaniyin Ar-Rohalin, 18)
Walid Al-Husain hafizhahulloh –salah seorang muridnya- menulis riwayat hidup Asy-Syaikh dengan ringkas, disebutkan:
Kelahiran dan Masa Kanak-kanaknya
Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin rohimahulloh lahir di kota Unaizah –salah satu kota di Daerah Qoshim-, pada tanggal 27 Romadhon 1347 Hijriyah, dalam keluarga yang terkenal agamis dan istiqomah. Bahkan, dia pernah belajar kepada salah seorang anggota keluarganya, seperti, kakek dari jalur ibunya Asy-Syaikh Abdurrohman bin Sulaiman Alu Damigh rohimahulloh. Dia belajar Al-Qur’an kepadanya hingga hafal. Kemudian, dia menuntut ilmu. Dia belajar menulis dan berhitung serta bidang ilmu adab lainnya. Dia dikaruniai kecerdasan, kesucian, kemauan keras, dan perhatian dalam menuntut ilmu dengan bersentuhan lutut di majelis para ulama. Terlebih lagi di majelis Syaikh Al-‘Allamah Al-Mufassir Abdurrohman bin Nashir As-Sa’di. Syaikh Abdurrohman As-Sa’di telah menunjuk dua orang dari muridnya untuk mengajar anak-anak kecil, yaitu Syaikh Ali Ash-Sholihi dan Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Al-Muthowwa’. Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin belajar kepada keduanya kitab Mukhtashor Al-Aqidah Al-Washithiah karangan Syaikh Abdurrohman As-Sa’di, Minhaj As-Saalikin karangan Syaikh Abdurrohman As-Sa’di, Al-Jumuriyah, dan Al-Fiah dalam ilmu nahwu dan shorof. Beginilah masa kecil Syaikh di antara asuhan para ulama.
Syaikh mempunyai seorang istri. Putra-putranya adalah Abdulloh, Abdurrohman, Ibrohim, Abdul Aziz, dan Abdurrohim. Dia punya saudara, yaitu Dr. Abdulloh, Kepala Bagian Sejarah Universitas Raja Sa’ud di Riyadh dan Aminul ‘Am untuk anugrah Raja Faishol, serta Abdurrohman.
Syaikh tidak pernah keluar untuk menuntut ilmu, kecuali ke Riyadh ketika dibuka universitas pada tahun 1372 Hijriyah. Dia masuk ke universitas tersebut. Syaikh bercerita, “Aku masuk universitas pada tahun kedua. Aku masuk setelah mendapat dorongan dari Syaikh Ali Ash-Sholihi dan meminta izin kepada Syaikh Abdurrohman As-Sa’di rohimahulloh. Universitas pada waktu itu terbagi kepada dua bagian, umum dan khusus, aku di bagian khusus. Pada waktu itu seseorang boleh melompat ke jenjang berikutnya. Dengan kata lain, seseorang bisa mengejar pelajaran di jenjang berikutnya semasa liburan, kemudian bisa ikut ujian di awal tahun. Jika lulus, ia boleh masuk ke jenjang berikutnya. Dengan ini dia bisa mempersingkat waktu belajarnya. Lalu, aku masuk ke fakultas syariah di Riyadh secara intisab (seperti program universitas terbuka) dan menamatkan pendidikan di fakultas tersebut. Setelah Syaikh Abdurrohman As-Sa’di wafat, dia wafat di kota Unaizah pada tahun 1376 Hijriyah dalam usia mendekati 69 tahun, beberapa syaikh diajukan untuk menjadi imam di masjid besar, hanya saja tidak ada di antara mereka yang bertahan lama.”
Kemudian, Syaikh Muhammad bin sholih Al-Utsaimin ditunjuk menjadi imam di masjid besar tersebut. Ketika itu dia mengajar menggantikan posisi gurunya. Dia baru mulai menulis pada tahun 1382 Hijriyah ketika dia mengarang buku yang berjudul Fathu Robbil Bariyah bi Talkhish Al-Hamawiah, yaitu ringkasan kitab karangan Syaikul Islam Ibnu Taimiyah, Al-Hamawiah fi Al-Aqidah.
Selama keberadaannya di Riyadh dia menyempatkan diri untuk belajar kepada Syaikh Abdul Aziz bin Abdulloh bin Baaz; dia belajar darinya Shohih Al-Bukhori, beberapa risalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dan beberapa kitab fikih.
Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin berkata, “Sungguh aku terkesan kepada Syaikh Abdul Aziz bin Baaz hafizhahulloh dari segi perhatiannya kepada hadits dan akhlak. Dia menyerahkan dirinya untuk orang banyak. Beberapa kali dia ditawarkan menjadi qodhi oleh Mufti Kerajaan Saudi Arabia, Syaikh Muhammad bin Ibrohim Alu Syaikh rohimahulloh. Bahkan, telah keluar surat keputusan yang menunjuknya menjadi Kepala Mahkamah Syari’ah di Ahsa’. Lalu, dia minta penangguhan dan setelah melalui beberapa proses, akhirnya permohonan penangguhannya diterima.”
Guru-gurunya
Syaikh Ibnu Al-Utsaimin menuai faidah dari beberapa syaikh. Sebagiannya di kota Unaizah dan yang lainnya di Riyadh ketika dia menetap untuk melanjutkan pendidikan formalnya. Salah seorang gurunya adalah Syaikh Abdurrohman bin Nashir As-Sa’di, wafat pada tahun 1376 Hijriyah. Syaikh As-Sa’di salah seorang ahli tafsir yang terkenal, pengarang kitab tafsir Taisir Al-Karimurrohman fi Tafsir Kalamil Mannan yang terdiri dari delapan jilid. Dia juga mempunyai banyak karangan dalam masalah fikih, ushul, qowa’id, akidah dan yang lainnya. Dia telah berhasil mencetak ulama yang benar-benar ahli di bidangnya yang punya andil besar dalam kancah ilmu. Sebagian mereka adalah anggota Haiah Kibarul Ulama, di antaranya adalah Syaikh Muhammad Al-Utsaimin yang telah banyak belajar dan memetik faidah darinya hampir sebelas tahun. Sepertinya Syaikh Al-Utsaimin adalah muridnya yang paling menonjol, oleh karena itulah dia menggantikan Syaikh As-Sa’di sebagai imam di masjid besar dan mengajar serta memberi fatwa.
Murid-muridnya
Tidak mungkin seseorang bisa menghitung orang yang pernah belajar kepada Syaikh. Karena, majelisnya selalu penuh sesak, apalagi belakangan ini hingga mungkin mencapai lebih lima ratus orang di sebagian pelajaran yang dia sampaikan dari berbagai tingkatan. Aku (penulis kitab Rihlatul Ulama fi Tholabul Ilmi, Abu Anas Al-Bankani) ingat pertama kali belajar kepadanya di awal tahun 1402 Hijriyah; mungkin kami tidak lebih dari sepuluh orang dalam satu majelis. Ketika itu Syaikh belum begitu terkenal, berdatanganlah orang-orang yang haus akan ilmu dari seluruh penjuru, hal ini mungkin disebabkan beberapa faktor, di antaranya:
- Kejujuran dan keikhlasannya dalam menuntut ilmu dan mengajar serta pengorbanannya dalam hal tersebut.
- Terjunnya dia untuk mengajar dan menyampaikan muhadhoroh di Masjidil Harom Makkah di bulan Romadhon. Orang-orang penuh sesak di Masjidil Harom pada bulan Romadhon, apalagi penuntut ilmu, khususnya di sepuluh hari terakhir bulan Romadhon. Mereka bersila mengelilingi Syaikh.
- Penyampaiannya, baik dari segi lafadz maupun makna sangat jelas sekali, ditambah cara dan ibaratnya yang menarik serta bisa dicerna, sekalipun oleh orang awam, apalagi penuntut ilmu.
- Selamatnya manhaj dia dalam akidah, ini adalah sifat yang dimiliki oleh semua ulama Najd –alhamdulillah- tidak seorang pun dari mereka yang sepanjang pengetahuanku (Abu Anas Al-Bankani) yang menyimpang dari akidah salaf. Karena, mereka berdekatan dengan zamannya imam mereka, Syaikhul Islam Al-Mujaddid Muhammad bin Abdil Wahhab rohimahulloh.
- Tidak fanatik dan tidak jumud terhadap suatu madzab dalam seluruh masalah hukum. Akan tetapi, dia selalu memilih yang hak, pendapat yang berlandaskan kepada dalil yang kuat, kendatipun secara zhohirnya bertentangan dengan madzab hambali yang berkembang di sana. Hal itu tidak memudhorotkannya.
- Jabatan penting yang ia sandang, seperti anggota Haiah Kibarul Ulama, Kepala Bagian Akidah di Cabang Universitas Muhammad bin Sa’ud Al-Islamiyyah Qoshim, Kepala Jama’ah Tahfizhul Qur’an di kota Unaizah, keikutsertaannya dalam acara Nur ‘Ala Ad-Darbi yang disiarkan di radio, hubungan baiknya dengan tokoh-tokoh untuk kemaslahatan umum, dan andilnya dalam banyak acara-acara penting di berbagai penjuru.
- Kehadirannya memenuhi undangan-undangan yang diajukan kepadanya untuk mengisi muhadhoroh di banyak kota Saudi Arabia, khususnya kota-kota besar yang selalu mengalir datang, seperti Riyadh, Jeddah, Madinah Al-Munawwaroh, Manthiqoh Asy-Syarqiah, dan sebagian kota-kota di daerah Qoshim. Ini tidak hanya terbatas di masjid-masjid saja, bahkan kadang kala dia mengisi di barak-barak tentara.
- Banyaknya kaset rekaman kajiannya yang sampai tersebar ke Negara-negara di Eropa dan Amerika menyebabkan banyak orang yang berdomisili di pusat-pusat kajian Islam di sana mendapatkan faidahnya. Mereka selalu mengikuti perkembangan rekaman-rekaman kajiannya yang banyak, berupa syaroh (penjabaran) dia terhadap kitab-kitab ilmiah yang hanya khusus untuk para penuntut ilmu, yang ia jabarkan dengan penjabaran yang lengkap di kaset-kaset tersebut. Misalnya, kitab At-Tadmuriah, Fathu Robbil Bariah, Al-Aqidah Al-Wasithiyah karangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, kitab Tauhid karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, Al-Aqidah As-Safariniyah yang merupakan rangkaian bait Syaikh Muhammad bin Ahmad As-Safarini yang lebih dikenal dengan sebutan ad-Durroh Al-Madhiyah fi Aqdil Firqotil Mardhiyah. Dia juga mensyaroh kitab-kitab hukum, seperti Bulughul Marom karangan Al-Hafizh Ibnu Hajar, walaupun penjabarannya dia belum lengkap dan Zadul Mustaqni’ fi Fiqih Imam Ahmad serta lainnya yang telah direkam dalam bentuk kaset dan tersebar luas di berbagai pelosok serta bermanfaat bagi para penuntut ilmu.
- Banyaknya karangannya, yang kebanyakkannya dalam bentuk buku kecil, akan tetapi kaya manfaat. Jelas ibaratnya dan tidak terdapat kerancuan yang sulit dipahami, dan dapat dipahami oleh orang awam sekalipun, apalagi para penuntut ilmu. Tulisannya mendapat sambutan yang hangat dari khalayak ramai, bahkan telah diterjemahkan sebagiannya ke berbagai bahasa, apalagi bahasa inggris dan telah tersebar di mayoritas Negara di dunia. Saya pribadi (Abu Anas Majid Al-Bankani) ikut menerjemahkan dua bukunya ke bahasa Bangladesh dan dibagi-bagikan secara gratis atas biaya para dermawan. Maka, inilah beberapa sebab yang membuat Syaikh terkenal. Dampak yang paling Nampak dari itu semua adalah berdatangannya para penuntut ilmu kepadanya untuk belajar, baik dari penjuru Kerajaan Saudi sendiri ataupun dari berbagai Negara yang berbeda-beda.
Sifat Zuhud dan waro’
Zuhud, sebagaimana yang dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat. Bisa jadi karena tidak ada manfaatnya atau tidak pentingnya hal tersebut karena ingin memilih yang lebih bermanfaat atau bila hal tersebut lebih besar madhorot dari manfaatnya. Adapun pada sesuatu yang manfaatnya jelas atau lebih besar manfaatnya, tidak ada zuhud padanya.
Adapun waro’, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Menahan diri dari sesuatu yang mungkin saja ada madhorotnya. Termasuk dalamnya segala yang harom atau syubhat. Karena, sesungguhnya hal tersebut bisa jadi ada madhorotnya. Sesungguhnya orang yang meninggalkan syubhat sungguh lebih selamat diri dan agamanya, sedangkan orang yang memilih syubhat bisa saja dia terjerumus pada yang harom. Misalnya, seorang gembala yang menggembalakan ternaknya di tepi ladang orang lain, bisa jadi gembalanya akan memakan ladang orang tersebut.”
Adapun perbedaan antara zuhud dan waro’, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Qoyyim dalam kitab Fawa’id, “Sesungguhnya zuhud adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat untuk urusan akhirat, sedangkan waro’ adalah meninggalkan sesuatu yang dikhawatirkan akan bermudhorot untuk urusan akhirat.”
Hati yang tergantung kepada syahwat tidak akan kenal dengan yang namanya zuhud dan waro’. Zuhud dan Waro’ adalah dua sifat yang mulia dan utama, yang sudah menjadi sifatnya para nabi dan selalu dijaga oleh para ulama. Mereka menjadikan manhaj (metode) para nabi sebagai pola hidup yang dijalankan dan diamalkan dalam bahtera kehidupannya. Mereka biasanya zuhud terhadap apa yang ada pada manusia dari urusan-urusan dunia. Oleh karena itu, mereka memperoleh cinta dari manusia. Mereka tidak menginginkan kecuali hanya apa yang ada pada Alloh. Mereka waro’ dari semua yang akan menyeret kepada yang syubhat dan membuat mereka terfitnah. Tidaklah Syaikh kita ini, kecuali wujud dari para ulama tersebut. Dia selalu bersifat zuhud dan waro’ dari semua segi. Beberapa kali disodorkan kepadanya kedudukan seperti menjadi qodhi; telah keluar surat keputusan dari Mufti Kerajaan Saudi Arabia yang menugaskannya untuk menjadi kepala mahkamah di Ahsa’, lalu dia minta penangguhan dan setelah melalui beberapa proses, akhirnya permohonan penangguhannya diterima. Kalaulah Syaikh menginginkan kedudukan, kemasyhuran, dan kedekatan dengan keluarga kerajaan negeri Arab Saudi ini, harta yang berlimpah ruah niscaya akan diperolehnya. Akan tetapi, sifat zuhud dan waro’ yang mencegahnya dari keinginan tersebut. Syaikh rohimahulloh tidak pernah datang mengetuk pintu keluarga kerajaan untuk ketamakan dan kecintaan dari apa yang ada pada mereka atas harta dan kedudukan atau untuk kemaslahatan pribadi. Hanya saja dia datang sekali-sekali untuk kepentingan umum yang nampak oleh Syaikh rohimahulloh atau hanya sekedar memenuhi undangan mereka. Masih banyak hal-hal lain yang nampak dan kami dengar atau di luar pengetahuan kami yang jelas-jelas menggambarkan sifat zuhud dan waro’nya.
Dia bersifat zuhud dan waro’ dalam seluruh segi yang disebutkan Ibnul Qoyyim rohimahulloh dalam kitab Fawa’id. Dia mengatakan bahwa zuhud tersebut ada beberapa macam:
- Zuhud dalam sesuatu yang harom, ini hukumnya fardhu ‘ain.
- Zuhud dalam hal-hal yang syubhat, ini hukumnya tergantung kepada bentuk syubhatnya. Jika syubhatnya kuat, hukum zuhud pada hal ini wajib. Adapun jika syubhatnya ringan, hukum zuhud padanya mustahab (sunat).
- Zuhud dalam hal-hal yang sifatnya berlebihan, yaitu zuhud dalam sesuatu yang tidak berguna dari perkataan, pandangan, pertanyaan, pertemuan, dan yang lainnya.
- Zuhud dalam apa yang ada pada manusia dan apa yang ada pada diri, dengan menganggap hina dirinya di hadapan Alloh.
- Zuhud yang mencakup seluruhya, yaitu zuhud pada sesuatu yang ada pada selain Alloh dan apapun yang akan membuat seseorang lalai dari-Nya. Zuhud yang paling afdhol adalah dengan menyembunyikan zuhud tersebut dan yang paling sulit adalah zuhud dalam kemakmuran.
Kalaulah Anda memperhatikan sifat-sifat ini dengan seluruh macam pembagiannya, niscaya Anda akan mendapatkannya ada pada sosok Syaikh. Tidak pernah terlepas darinya dalam semua gerak-geriknya. Zuhud yang berbeda dengan zuhudnya para pendeta atau orang-orang sufi, akan tetapi zuhud yang sesuai dengan manhajnya para nabi, zuhud seperti zuhudnya Musthofa ‘alaihishsholatu Wasallam.
Peninggalan Ilmiah
Syaikh rohimahulloh telah mengarang dan meninggalkan karya ilmiah dalam berbagai bidang, baik berupa rekaman ataupun tulisan dalam masalah akidah, fikih, hadits, budi pekerti, akhlak, muamalat, dan lainnya. Semua itu berpengaruh besar dan bermanfaat bagi orang banyak, baik dari kalangan masyarakat awam ataupun penuntut ilmu. Animo masyarakat sangat tinggi terhadap tulisannya. Hal ini menunjukkan kepercayaan mereka kepadanya. Karena, mereka melihat Syaikh sebagai sosok yang cakap dan pantas untuk menerangkan hukum syariat, berfatwa, dan menulis.
Tulisan dan karangan Syaikh terkenal jelas dan gamblang. Jelas dari segi lafazh juga maknanya, jauh dari ungkapan-ungkapan panjang dan membosankan, atau terlalu ringkas sehingga sulit dimengerti. Karangannya selalu disertai dengan dalil yang shohih dan komentar yang tegas. Dengan kepiawaiannya dalam menyusun bab dan pembagiannya terhadap apa yang memang perlu dibagi serta lainnya dengan cara menarik yang membuat karangan tersebut menjadi indah, menarik, dan bagus.
Di antara contoh yang menunjukkan perhatian besar Syaikh terhadap penuntut ilmu adalah mewajibkan mereka menulis dan menyelesaikan beberapa masalah. Bahkan, adakalanya para pemula pun ditugaskan untuk menumbuhkan semangat dan memotivasi mereka.
Syaikh selalu berusaha untuk tidak memaksakan pendapatnya dalam hal-hal yang butuh untuk dimusyawarahkan. Bahkan, dia berusaha untuk mengikutsertakan muridnya untuk memberikan pendapat. Tidak jarang juga dia lebih memilih pendapat para muridnya dari pendapatnya sendiri. Tidak mengherankan lagi bahwa hal seperti ini adalah semacam latihan bagi mereka untuk berani mengungkapkan kebenaran. Beralihnya Syaikh dari pendapatnya dan memilih pendapat muridnya bukanlah suatu ‘aib. Akan tetapi, sebetulnya ini adalah sifat mulia yang pantas mendapat acungan jempol. Sebagaimana Syaikh juga menggunakan metode yang patut dicontoh dalam melatih para muridnya untuk menyampaikan nasihat dan pelajaran ilmiah. Dia memberikan mereka tugas untuk menyiapkan bahan dan menyampaikannya di hadapan murid yang lain, dan disaksikan oleh Syaikh. Kemudian, dia memberikan komentar dan koreksian atau mungkin dari sesama mereka agar para murid terlatih untuk itu. Syaikh rohimahulloh juga mengadakan pelajaran tambahan yang diisi oleh sebagian muridnya yang telah mampu dalam bidang keilmuannya. Dia menyuruh mereka untuk mempersiapkan dan mengajarkan ilmunya untuk para pemula. Asy-Syaikh Muhammad bin Abdurrohman Al-Ismaili mengajar faroidh, Syaikh Abdurrohman bin Sholih Ad-Dahasy mengajar nahwu, Syaikh Kholid bin Abdulloh Al-Mushlih mengajar tauhid, Syaikh Sami’ bin Muhammad Ash-Shoqir mengajar fikih, dan syaikh Kholid Al-Mathrofi mengajar nahwu.
Wafatnya
Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin wafat pada hari Rabu sore, 15 syawal 1421 H/10 januari 2001, di Rumah Sakit di Jeddah dan disholatkan pada waktu Ashar hari Kamis, 16 Syawal 1421 H di Masjidil Haram ( Mekah ).
Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin, semoga Alloh merahmatinya…
(Diambil dari kitab Rihlatul Ulama fi Tholabul Ilmi karya Abu Anas Majid Al-Bankani, dengan beberapa tambahan)
June 8, 2009 at 4:35 pm
rohimallohusy syaikho…mas paiman ana punya rekaman file kejadian pembacaan sya’ir muridnya Syaikh Ibnu Utsaimin ktk memuji beliau .awalnya ia cuma minta ijin utk baca syair lalu Syaikh bertanya pd hadirin apa mau mendengarkan syair itu dan Syaikh ga th isi Syair itu kcuali setelah mendengarnya.hadirin mau mendengarnya lalu dibacalah syair yg memuji Syaikh,tp Syaikh ga mau dipuji dan memerintahkan agar syair tersebut diganti dengan ” SELAMA DISISI KITA ADA KITAB DAN SUNNAH “.murid beliau menggantinya tp setelah itu menyebut2 lg nama Ibnu Utsaimin dlm syairnya, Syaikh melarangnya tp murid tsb ngotot,begitu pula hadirin lainya,sang murid ingin melanjutkan membaca tp dilarang Syaikh dan Syaikh tetap pd pendirianya sampai akhirnya beliau menasehati muridnya tsb dan yg hadir disitu agar tidak mengikat kebenaran dengan seseorang, krn orang hidup tdk bs aman dari fitnah dan tdk diketahui akhir hidupnya seperi apa.berikut syair itu
يا أمةتي إن هذ الليلى يعقبه فجر وأنواره في لأرض تنتشر
و الخير مرتقب و الفتح منتظر و الحق رغم جهود الشر منتشر
وبصحوة بارك الباري مسيرتها نقية ما بها شوب ولا كدر
ما دام فينا ابن صالح شيخ صحوتنا بمثله يرتجى التأييد و الظفر
wahai umatku sesungguhnya malam ini diikuti fajar chy nya trsebar di seluruh bumi
kbaikan diharapkan kemenangan dinantikan walaupum kejahatan merajalela tp al haq tersebar kemana mana
jln kebenaran diberkahi oleh Alloh tidak ada kotoran dan aib padanya
SELAMA DISISI KITA ADA iBNU SOLIH AL UTSAIMIN dengan ulama sepertinya kemenangan dpt diharapkan
( file ini ana dpt dari islamway.com mohon maaf kalo ada kekurangan dlm penerjemahan semoga bermanfaat) akhukum fillah jarwo bin ngatimin al bayati