Oleh : Syaikh Abdul Aziz bin Royyis Ar Royyis hafidzohullohu ta’ala
Kemudian ketahuilah wahai ikhwani bahwasanya jihad terhadap jiwa adalah murodun lidzatihi (dimaksudkan untuk dirinya, tidak dimaksudkan untuk tujuan lain), adapun jihad terhadap musuh dengan perang maka murodun lighoirihi (dimaksudkan untuk tujuan lain) yaitu dimaksudkan untuk meninggikan kalimat Alloh. Dan sesuatu yang dimaksudkan untuk dirinya (murodun lidzatih) maka ia lebih didahulukan daripada sesuatu yang dimaksudkan untuk tujuan lain (murodun lighoirih).
Fase-fase Jihad fi Sabilillah
Setelah ini wahai ikhwan yang dimaksud jihad di dalam pembahasan dan pelajaran kita adalah jihad terhadap musuh dan memerangi musuh. Dan jihad ini yaitu jihad memerangi musuh sungguh telah melewati beberapa fase, lewatnya jihad di dalam fase-fase ini memiliki manfaat yang sangat agung, yaitu agar kita mengetahui kapan jihad itu disyariatkan dan kapan tidak disyariatkan, sehingga kita bisa melihat pada fase yang jihad disyariatkan pada fase tersebut, apabila kita hidup pada fase tersebut maka kita melaksanakan jihad yaitu jihad terhadap musuh/perang, tapi apabila kita tidak hidup pada fase tersebut (fase disyariatkannya jihad) maka kita menahan diri dari berjihad memerangi musuh sampai tiba fase yang jihad disyariatkan di dalamnya.
Oleh : Syaikh Abdul Aziz bin Royyis Ar Royyis hafidzohullohu ta’ala
Dan setelah ini semua wahai saudara-saudaraku, tema pelajaran ini adalah “Jihad Antara Ghuluw (Sikap Berlebih-lebihan) dan Jafa’ (Sikap Meremehkan)”. Dan telah berlalu pembahasan tentang ghuluw dan jafa’, adapun JIHAD di dalam alqur’an dan sunnah dimutlakkan menjadi dua makna/memiliki dua makna:
Makna yang pertama adalah makna yang umum yaitu berjihad terhadap jiwa untuk mentaati Alloh serta berpegang teguh dengan syari’at, melaksanakan kewajiban, melazimi amal-amal sunnah, berjihad terhadap jiwa untuk meninggalkan semua yang harom, menjauhi semua yang dibenci atau dengan kata lain berjihad terhadap jiwa untuk beristiqomah dan menempuh apa yang diridhoi oleh Robb kita Yang Maha Mulia serta Maha Agung kekuasaanNya.
Adapun makna dari jihad yang kedua adalah memerangi musuh dan memerangi orang-orang kafir.
Sebenarnya pembahasan ini bukan hanya ditujukan untuk kaum teroris saja tapi juga untuk kaum muslimin secara umum yang masih memiliki ghiroh di dalam mempelajari agamanya khususnya yang berkaitan dengan tema jihad. Akan tetapi kami melihat bahwa syubhat-syubhat yang ada di dalam pembahasan ini banyak sekali yang dijadikan jargon oleh kaum teroris, yang sebenarnya kalau kita cermati maka kita akan mendapati jargon-jargon yang digembar-gemborkan oleh kaum teroris tersebut tidak lebih dari sekedar gonggongan dari anjing-anjing neraka.
Dalam rangka ikut berperan serta di dalam membungkam gonggongan khowarij sang anjing-anjing neraka tersebut, maka kami tergerak untuk menterjemahkan pembahasan yang sangat bermanfaat lagi ilmiyah ini.
Sebelum kita membaca lebih jauh lagi, kami menasehati diri pribadi kami sendiri dan juga saudara-saudara kami untuk senantiasa memahami dien ini dengan berdasarkan ilmu, bukan berdasar emosi dan dendam kesumat belaka. Syaikh Amr Abdul Mun’im Salim hafidzohullohu ta’ala berkata, “Masalah ini pada jaman sekarang telah menyeret banyak sekali para pemuda yang hanya berbekal emosi dan semangat semata kepada sebab-sebab fitnah, padahal emosi dan semangat belaka keduanya tidak memiliki hak tidak memiliki peran di dalam hukum-hukum syariat, akan tetapi yang menjadi patokan adalah apa-apa yang berasal dari Alloh dan Rosul-Nya sholallohu ‘alaihi wa sallam. Maka dari itu yang menjadi kewajiban kita adalah berkonsentrasi di dalam mengumpulkan atsar-atsar para ulama salaf berkaitan dengan masalah yang sangat penting ini”. (Al-Manhajus Salafy ‘inda Syaikh Nasiruddin Al-Albani halaman 197).
Ada kelompok manusia yang berlebihan dalam menolak takdir. Mereka menyatakan bahwa Alloh tidak menakdirkan perbuatan seorang hamba. Hamba berbuat dengan pilihan dan kemampuan sendiri tanpa terikat dengan takdir Alloh. Di antara mereka ada yang sampai menafikan ilmu Alloh terkait apa yang akan terjadi dan di antaranya mengimaninya. Mereka di masa sekarang adalah yang menetapkan ilmu Alloh, tetapi menolak takdir Alloh pada para hamba-Nya. Merekalah yang disebut Qodariyah.
Kepada mereka para pengingkar takdir tersebut (Qodariyah), kami katakan, tidakkah kalian ketahui bahwa takdir merupakan salah satu rukun iman? Pengingkaran kepada takdir berarti mencacati salah satu rukun iman. Seseorang yang rukun imannya cacat, tidak sempurna, tidak lengkap, maka dia bukanlah orang yang beriman.
Kepada kaum yang tidak disukai, yang Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda tentangnya: “Akan ada di kalangan umat ini, suatu kaum yang kelewat batas dalam bersuci dan berdoa” (HR. Abu Dawud), yaitu yang berdoa dengan berteriak-teriak dan untuk sesuatu yang tidak layak. Belumkah sampai di telinga kalian firman Alloh: “Berdoalah kepada Robb-mu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”(Al-A’roof: 55) ?!
Kepada kaum yang “mabuk dzikir”, yang kurang puas dengan bacaan-bacaan dzikir yang telah dituntunkan oleh Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam, yaitu yang mengarang sholawat-sholawat baru, menambah-nambahi bacaan dzikir di tempat yang tidak semestinya, yang berdzikir sambil ditabuhi musik, dan yang berdzikir dengan berdiri menari-nari berputar-putar sempoyongan seperti orang kesurupan hingga mereka tidak ingat apa-apa. Tidakkah kalian ketahui, bahwa arti dzikir adalah ingat, dan dzikir itu adalah untuk mengingat Alloh?! Kalau kalian tahu, kenapa “puncak dzikir” versi kalian adalah ketika kalian berada di alam bawah sadar?!
Kepada kaum yang sesat, yang meyakini bahwa Alloh adalah panca indera dan organ tubuh manusia, yang percaya bahwa Alloh ada di mana-mana, yang beranggapan bahwa mereka adalah Alloh itu sendiri. Maha Suci Alloh dari apa yang kalian yakini! Ketahuilah, bahwa Alloh itu berada di atas langit, Dia bersemayam di atas ‘Arsy, dan bukan berada di tubuh-tubuh kalian!!!
Inilah kisah tentang orang-orang yang sedang ngiler melihat dunia. Mereka adalah para aktivis partai “Islam” yang berlomba-lomba membual dan mengobral janji demi sebuah kursi kedudukan dengan dalih untuk memperjuangkan Islam. Berbagai cara dilakukan demi memperoleh suara sebanyak-banyaknya. Tak peduli walau harus pakai cara-cara harom sekalipun. Nyogok masyarakat melalui acara “bagi-bagi uang dan kaos” adalah salah satu aksinya.
Yah, begitulah kalau ambisi keduniawian telah mencapai klimaks-nya. Apapun dilakukan meski agama menjadi taruhannya. Benar kata Rosul, “Tidaklah dua ekor serigala yang lapar dilepas di tengah sekawanan kambing lebih merusak seseorang terhadap agamanya karena ambisinya untuk mendapatkan harta dan kedudukan.” [HR. Tirmidzi]