Daftar Presensi

Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Silahkan mengisi “Daftar Presensi” ini dengan tetap menjaga adab-adab Islami. Gunakan kata-kata yang sopan dan hindari kata-kata yang tidak perlu. Dimohon untuk tidak menuliskan “Assalamu’alaikum” dengan ASS, “Subhanahu Wa Ta’ala” dengan SWT, “Shollallohu ‘Alaihi Wasallam” dengan SAW atau sejenisnya. Dan, kami mohon dengan sangat untuk tidak menggunakan logo/avatar berupa foto atau gambar makhluk bernyawa. Berikut alasannya yang juga menjadi sebab kenapa Akh Paiman tidak menampilkan foto (gambar diri)-nya:

Gambar makhluk bernyawa merupakan salah satu sebab terbesar mengapa manusia terjerumus ke dalam kesyirikan. Kita ingat kesyirikan pertama di muka bumi ini yang dilakukan oleh kaum Nabi Nuh ‘Alaihi Sallam adalah disebabkan gambar (patung) orang sholih. Alloh berfirman, “Dan mereka berkata: ‘Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwaa’, yaghuts, ya’uq dan nasr’.” [Nuh: 23]

Ibnu Abbas rodliyallohu ‘anhu menjelaskan bahwa kelima nama tersebut adalah nama orang-orang sholih yang ketika itu tinggal ada gambarnya saja. Karena sebab itulah di antaranya Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam melarang umatnya secara tegas dari menggambar makhluk bernyawa baik manusia maupun yang lain. Ini semua demi terjaganya aqidah umat ini dari kotoran syirik. Namun sangat disayangkan banyak dari umatnya tak menghiraukan peringatan Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam tersebut. Tidak sedikit dari kaum muslimin yang menjadikan profesi dirinya adalah menggambar makhluk bernyawa.

Dengan banyaknya beredar gambar bernyawa maka tersebarlah kesyirikan di umat ini sebagaimana telah tersebar pada umat terdahulu. Di samping gambar makhluk bernyawa merupakan penyebab kesyirikan pada umat ini juga berbagai kemaksiatan dan tindak kriminal karena dipicu gambar bernyawa tersebut. Banyak kaum muslimin larut dalam dunia gambar, sampai mereka betul-betul cinta kepadanya. Kita dapati sekarang ini di jalan-jalan, di perkantoran, di kendaraan, di barang-barang dagangan sampai di kamar-kamar hampir setiap rumah tidak terlepas dari gambar tersebut. Seolah-olah mereka tidak pernah mendengar dan membaca ancaman yang sangat keras bagi para pembuat gambar. Tentunya ancaman tersebut akan mengena juga kepada orang-orang yang ridho kepadanya karena suatu kejahatan ia seperti pelaku kejahatan tersebut. Walau mungkin saja kadar ancamannya berbeda.

Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Alloh berfirman: Dan tiada yang bertindak lebih zhalim daripada orang yang bermaksud mencipta seperti ciptaan-Ku. Maka cobalah mereka mencipta seekor semut kecil, atau sebutir biji-bijian, atau sebutir biji gandum.” [HR. Bukhori dan Muslim] (Catatan: yang dimaksud mencipta seperti ciptaan Alloh adalah menggambar makhluk bernyawa)

Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Manusia yang paling keras siksanya pada hari kiamat nanti adalah orang-orang yang membuat penyerupaan dengan makhluk Alloh (gambar makhluk bernyawa).” [HR. Bukhori dan Muslim]

Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Setiap penggambar makhluk bernyawa berada dalam neraka, untuknya setiap gambar yang dibuatnya akan diberi nyawa guna menyiksa dirinya dalam neraka jahannam.” [HR. Bukhori dan Muslim]

Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barang siapa yang membuat gambar (makhluk bernyawa) di dunia, akan dibebani (pada hari kiamat) untuk meniupkan roh ke dalam gambar buatannya itu. Namun dia tidak akan dapat meniupkannya.” [HR. Bukhori dan Muslim]

‘Ali bin Abi Thalib rodliyallohu ‘anhu berkata kepada Abul Hayyaj Al-Asadi: “Maukah aku mengutus-mu dengan apa yang Rosulullah Sholallohu ‘alaihi wa sallam mengutusku? (Beliau mengatakan padaku): “Janganlah engkau membiarkan gambar kecuali engkau hapus dan tidak pula kubur yang ditinggikan kecuali engkau ratakan!”

Seseorang pernah datang menemui Ibnu ‘Abbas rodliyallohu ‘anhuma. Orang itu berkata: “Aku bekerja membuat gambar-gambar ini, aku mencari penghasilan dengannya.” Ibnu ‘Abbas rodhiallohu ‘anhuma berkata: “Mendekatlah denganku.” Orang itupun mendekati Ibnu ‘Abbas rodhiallohu ‘anhuma. Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata: “Mendekat lagi.” Orang itu lebih mendekat hingga Ibnu ‘Abbas rodhiallohu ‘anhuma dapat meletakkan tangannya di atas kepala orang tersebut, lalu berkata: “Aku akan beritakan kepadamu dengan hadits yang pernah aku dengar dari Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam. Aku mendengar beliau Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Semua tukang gambar itu di neraka. Alloh memberi jiwa/ ruh kepada setiap gambar (makhluk hidup) yang pernah ia gambar (ketika di dunia). Maka gambar-gambar tersebut akan menyiksanya di neraka Jahannam.”

Ibnu ‘Abbas rodliyallohu ‘anhuma berkata kepada orang tersebut: “Jika kamu memang terpaksa melakukan hal itu (bekerja sebagai tukang gambar) maka buatlah gambar pohon dan benda-benda yang tidak memiliki jiwa/ ruh.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqolani rohimahullohu menerangkan bahwa pembuat gambar makhluk hidup mendapatkan cercaan yang keras dengan diberi ancaman berupa hukuman yang ia tidak akan sanggup memikulnya, karena mustahil baginya untuk meniupkan ruh pada gambar-gambar yang dibuatnya. Ancaman yang seperti ini lebih mengena untuk mencegah dan menghalangi orang dari berbuat demikian serta menghentikan pelakunya agar tidak terus melakukan perbuatan tersebut. Adapun orang yang membuat gambar makhluk bernyawa karena menghalalkan perbuatan tersebut maka ia akan kekal di dalam azab. [Fathul Bari, 10/484]

Dari dalil-dalil di atas dapat disimpulkan tentang ancaman bagi para pembuat gambar bernyawa yaitu:

  1. Termasuk yang paling keras siksanya
  2. Akan dituntut untuk memberikan ruh dan dia tidak akan mungkin mampu
  3. Gambar-gambarnya akan diberi nyawa kemudian menyiksanya
  4. Ia berada dalam neraka

Hukum menyimpan gambar bernyawa

Gambar bernyawa hukumnya sama saja apakah ia hasil lukisan atau hasil fotografi, baik berdimensi dua lebih-lebih berdimensi tiga. Meski tidak ditinjau dari proses terwujudnya maka sebagian ulama berpendapat bahwa memfoto atau memotret berbeda hukumnya dengan melukis. Mereka berpendapat bahwa memotret pada asalnya mubah, kecuali jika potret tersebut demi sesuatu yang haram. Maka hukum memotret tergantung maksudnya.

Menyikapi fenomena yang ada sekarang ini di mana hampir-hampir tak ada ruang kecuali ada padanya gambar bernyawa, sebagian ulama merinci hukum penyimpanannya sebagai berikut:

  1. Disimpan untuk dimuliakan karena ia adalah gambar raja, ulama, ahli ibadah, atau yang sejenisnya. Hukumnya haram dan malaikat tak akan masuk rumah tersebut.
  2. Disimpan dan dipajang untuk hiasan dinding karena indah dipandang, hukumnya sama yaitu haram.
  3. Disimpan untuk kenang-kenangan. Ini hukumnya juga haram karena keumuman sabda Nabi : “Sungguh malaikat tidak akan masuk rumah yang ada padanya gambar (bernyawa).” [HR. Bukhori dan Muslim]
  4. Disimpan tanpa sengaja karena ia berada pada benda yang lain seperti yang di majalah, barang-barang dagangan dan lain-lain, hukumnya tidak mengapa dengan tetap berusaha menghapus atau menutupinya semaksimal mungkin.
  5. Disimpan tanpa sengaja dalam posisi terhinakan, seperti pada keset, sandal, dan lain-lain. Jumhur ulama berpendapat boleh. Namun tidak termasuk yang di pakaian, baik pada anak-anak lebih-lebih orang dewasa.
  6. Dengan terpaksa harus menyimpannya dan tidak mungkin kita melepaskan diri darinya, seperti pada KTP, Pasport, ijazah, dan uang. Hal ini tidak mengapa. Alloh berfirman, “Dan berjihadlah kamu pada jalan Alloh dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” [Al-Hajj: 78]

Wallohu ta’ala a’lamu bish-showab.


Jogja, 1 Robiul Awal 1430 H

Paiman bin Bandi al-Klateni


8 Responses to “Daftar Presensi”

  1. Tegoeh Says:

    Sama2 ngeblog man….sukses buat kita semua…amienn..!!

  2. petak Says:

    Absen akh…

    maaf akh
    WP kayaknya lg gangguan nih ga bisa ganti avatar…

  3. hanif019 Says:

    Bismillah
    Assalamu’alaikum
    Segera baca fatwa Syaikh Ubaid Al-Jabiry soal Eksekusi Amrozi Cs di http://hanif019.wordpress.com/2008/12/14/fatwa-syaikh-ubaid-al-jabiry-soal-eksekusi-amrozi-cs/
    Jazakumullahu khairan katsiiraa

    Wa’alaikumussalam warohmatulloh
    Alhamdulillah.. Jazaakallohu khoiron atas informasinya. Barokalloh fiik..

  4. Hanif Abu Hanif Says:

    Bismillah
    Man, kabar gembira buat antum :

    Tahukah Anda apa makna kebahagiaan yang hakiki? Apakah fisik yang bagus, materi yang mencukupi, dan perkara duniawi lainnya layak menjadi parameter kebahagiaan hidup kita? Bagaimana cara kita mendapatkan kebahagiaan yang hakiki itu?

    Temukan jawabannya pada Kajian Umum Malam Senin dengan tema “Jalan Menuju Kebahagiaan Hidup”

    Pembicara: Al Ustadz Abdul Mu’thi Al Maidani

    Waktu: Setiap Ahad, ba’da Isya s.d selesai

    Tempat: Masjid Muhajirin, Perumnas Condong Catur
    (Utara Pasar Condong Catur)

    Membahas Kitab:
    “الوسائل المفيدة للحياة السعيدة”
    Jalan yang Bermanfaat untuk Mendapatkan Hidup yang Bahagia
    karya Asy Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di

    Penyelenggara: Takmir Masjid Muhajirin, Perumnas Condong Catur – Jogjakarta.

    Informasi lebih lanjut, hubungi:
    - Abu Umar (08562859145)
    - Abu Baroroh (081586586136)

    Alhamdulillah.. Jazaakallohu khoiron katsir, Nif, atas informasinya..

  5. Agoez12 Says:

    Assalamualaikum akhi blh gbng tidak ? and jangan lupanya lihat blog aq di alamat nihya warungkaledo.blogspot.com dan aq tunggux comenntx

    Wa’alaikumusallam warohmatullohi wabarokatuh. boleh..

  6. isl4my Says:

    tentang foto ini saya muat di http://www.isl4my.wordpress.com
    mudah2an antum tidak keberatan

    barokallohufiikum.

  7. abusalman007 Says:

    Bismillah

    ikutan ngisi ah, dapat snack ga akh?

  8. giyanto rsud sekarwangi Says:

    Assalamualaikum akh…afwaan,…curhatan ana tg masa lalu SMA ana di SMAN Cawas, ahsan antum hapus aja…cukup kita yg tahu aja…ana takut ini kan mjd fitnah dan menimbulkan kesombongan…krn ana lihat banyak yg coment pedas…Barakallahu fiikum… tetap smangat menuntut ilmu…dan teruslah menyuarakan kebenaran dg bimbingan ilmu syar’i tentunya…

    Wa’alaikumussalam warohmatulloh… ya, sudah ana hapus. wafiikum baarokalloh.

Leave a Reply