Selain sebagai alat yang berperan penting untuk mewujudkan komunikasi yang baik antara manusia satu dengan yang lainnya, bahasa juga merupakan sebuah kunci untuk memahami suatu ilmu. Sebab, dengan bahasa kita akan mampu mempelajari sebuah literatur atau referensi dari sebuah ilmu yang kita butuhkan.
Sebagaimana kita ketahui bahwa ilmu yang wajib kita pelajari adalah ilmu syar’i (agama), dan sumber ilmu yang paling otentik adalah al-Qur’an dan Hadits ditambah dengan literatur para ulama yang berisi penjelasan dan pemaknaan dari kedua sumber tersebut. Berarti, untuk memahami itu semua, kita tentu harus mampu menguasai sebuah bahasa yang digunakan. Bahasa apakah itu?
Jalan dakwah adalah jalannya para Nabi dan Rosul Sholawatulloh ‘alaihim ajma’in, juga jalannya generasi terbaik umat ini dari kalangan Salafus Sholih Ridhwanullohi ‘alaihim ajma’in, juga jalannya para Imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah pada masanya. Tongkat estafet Dakwah Salafiyyah Ahlus Sunnah wal Jama’ah terus bergulir dari generasi ke generasi berikutnya, dari Rosul pertama Nabi Nuh ‘Alaihi Sallam hingga Rosul terakhir Muhammad Shollallohu ‘alaihi wasallam dan dari zaman beliau hingga zaman 3 generasi terbaik umat ini dan terus menerus berkesinambungan hingga zaman kita ini.
Apabila kita mencermati perjalanan dakwah para pendahulu kita, maka pelajaran penting dan berharga akan kita temukan, bahwasanya seorang da’i harus mempunyai persiapan dan bekal yang cukup matang, lahir dan batin, untuk menghadapi beban, gangguan dan rintangan dakwah yang senantiasa menghadangnya.
Ada fenomena kehidupan para wanita yang cukup “mengerikan” di masyarakat kita hari-hari ini, yaitu kejahilan (kebodohan) mereka akan perkara agamanya. Ya, kebodohan wanita akan perkara agamanya memang merupakan fenomena mengerikan yang merebak di masyarakat kita dewasa ini. Sehingga mudah saja kita dapati wanita yang tidak tahu (atau tidak mau tahu?) bagaimana berpakaian yang baik dan benar sesuai syariat…tidak tahu bagaimana cara membersihkan najis…bagaimana cara wudlu yang benar…bagaimana tata cara sholat yang sesuai dengan tuntunan Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam… Lebih dari itu, bahkan tidak bisa membedakan antara tauhid dan syirik, sunnah dan bid’ah.
Yaa subhanalloh! Lalu bagaimana wanita yang jahil (bodoh) ini bisa mendidik generasi Robbani yang siap mengemban amanah Alloh di muka bumi? Bukankah “Ibu adalah madrosah bagi anak-anaknya”?
Secara “kodrati”, wanita itu memang -afwan- stupid. Ya stupid dari segi akalnya, ya stupid dalam agamanya. Hal itu berdasar pada haditsnya Abu Sa’id Al-Khudri berikut:
Sesungguhnya laki-laki yang melihat kepada wanitaSeperti binatang buas mengelilingi dagingApabila daging itu tidak dijaga dengan baikAkan dimakan tanpa ganti rugi dan harta
Tak dipungkiri bahwa fitnah pandangan mata merupakan fitnah (ujian) besar bagi manusia. Namun kebanyakan manusia malah bermudah-mudahan padanya, sehingga hampir-hampir menjerumuskan mereka ke dalam busuknya maksiat dan jerat fitnah. Berapa banyak pemuda yang dulunya taat, berbalik menjadi pecinta maksiat. Berapa banyak pemudi yang dulunya polos dan lugu, berbalik menjadi wanita penghamba nafsu. Dan berapa banyak manusia yang karenanya terjatuh dalam perzinaan dan perbuatan keji. Naudzu billah! Maka, tak ada jalan keselamatan kecuali dengan menahan atau menundukkannya.
Hari ini kita hidup di masa ketika Islam telah kembali asing, ajarannya sudah banyak dilupakan dan ditinggalkan. Lihat saja, orang yang mengamalkan Islam secara konsisten malah dianggap aneh dan asing. Lebih parahnya lagi, malah dijadikan bahan olok-olokan. Ketika memakai celana di atas mata kaki, disindir sebagai korban banjir. Memelihara jenggot, dibilang kambing. Mengenakan jilbab besar, lebar dan hitam lengkap dengan cadarnya, dibilang ninja, manusia kelelawar, atau bahkan setan.
Menjadi makhluk asing alias “alien” di tengah kebanyakan manusia yang bobrok akhlaknya memang tidak mudah. Menjalankan ajaran Alloh dan Rosul-Nya secara kaffah di jaman ini memang berat. Namun inilah konsekuensi bagi orang yang berpegang teguh pada sunnah, pada ajaran dien yang mulia ini. Cukuplah bagi kita dua hadits berikut sebagai penghibur hati:
Dia bernama Nashiruddin bin Nuh Najati bin Adam. Penambahan namanya dengan “Muhammad” karena nama yang sebenarnya ada sedikit berbau penyucian. Kunyahnya Abu Abdurrohman. Dia lebih dikenal dengan Al-Albani, yang dinisbatkan kepada Albania, salah satu negara Islam di Balkan.
Kelahiran
Dia lahir di kota Asyqurdaroh, ibukota negara Albania, pada tahun 1333 H, bertepatan dengan tahun 1914 M. Dia hijrah dengan orang tuanya ke Damaskus ketika berumur 9 tahun dan dia besar di sana.
Pendidikan dan Gurunya
Dia besar di Damaskus dan belajar di bangku ibtidaiyah. Kemudian, ayahnya menarik dia dari pendidikan formal dan mendidiknya secara langsung. Dia belajar Al-Qur’an dan fikih Hanafi kepada ayahnya. Kemudian, dia merasa kurang dengan apa yang ia pelajari dari ayahnya dan Syaikh Sa’id Al-Burhani. Kemudian, ia belajar kepada Syaikh Muhammad Roghib Ath-Thobbakh dan buku pegangannya Watsiqotul Anwar Al-Jaliyyah fi Mukhtashor Al-Atsbat Al-Halabiyah dan dia memberikan pengukuhan kepada Syaikh Al-Albani dalam ilmu hadits.
Syaikh Al-Albani Rohimahulloh punya perhatian besar dalam masalah ini. Dia mempersiapkan diri. Ketika berumur 20 tahun dia banyak terpengaruh dengan pembahasan-pembahasan yang dimuat di majalah Al-Manar milik Syaikh Muhammad Rosyid Ridho hingga dia menjadi imam Ahli Sunnah wal Jama’ah pada zaman ini dan dianggap sebagai pilar ahli hadits pada masanya.
Hari ini, 29 Desember 2008, bertepatan pada tanggal 1 Muharrom. Kita telah memasuki tahun baru 1430 H. Sebagai seorang muslim sudah selayaknya kita berbangga terhadap penanggalan Islam ini, penanggalan hijriyah. Namun, jangan sampai kebanggaan kita ini membuat kita terjerumus pada hal-hal yang tidak disyariatkan, yaitu sikap berlebihan dalam menyambut tahun baru hijriyah.
Telah kita pahami bersama bahwa Islam hanya mengenal dua hari raya, yaitu Idul Adha dan Idul Fitri. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits: Dari Anas rodhiallohu ‘anhu berkata, “Ketika Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam datang ke Madinah penduduknya memiliki dua hari yang selalu digunakan untuk bermain dan bersendau gurau di dalamnya. Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam bertanya, “Dua hari apakah ini?” Mereka menjawab, “Di jaman jahiliyah kami terbiasa bermain-main di dalamnya.” Maka Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Alloh Ta’ala telah menggantikan bagi kalian dengan hari yang lebih baik dari keduanya, yakni Idul Adha dan Idul Fitri. [HR. Abu Dawud dan Ahmad]
Ya, sebagaimana kita ketahui bersama bahwasanya rumah adalah tempatnya kaum wanita. Sholat di rumah tentu lebih utama bagi mereka daripada di masjid, sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur`an: “…dan rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka”. Sebaliknya, tidak demikian bagi kaum laki-laki, tempat sholat (wajib)-nya laki-laki adalah di masjid. Untuk itu sudah selayaknya bagi seorang laki-laki yang mengaku “jantan” hendaknya mengerjakan sholat di masjid, bukan di rumah.
Hari ini, umat Islam merayakan hari qurban, yakni menyembelih hewan qurban untuk dipersembahkan kepada Alloh Subhanahu wa ta’ala. Hewan qurbannya bisa berupa unta, lembu ataupun domba. Kelak, di hari kiamat besok juga akan ada “hari qurban”, yakni diperlihatkannya kita akan penyembelihan kematian. Kematian itu diwujudkan dengan seekor domba.
Pada hari kiamat nanti didatangkan al-maut (kematian) dalam rupa domba jantan yang gemuk lalu ada penyeru yang menyeru, “Wahai penduduk jannah!” Maka penduduk jannahpun menoleh dan melihat. Lalu penyeru itu berkata, “Kalian mengenali ini?” Mereka menjawab, “Ya, itu adalah kematian.” Mereka seluruhnya melihatnya.
Kemudian penyeru itu kembali berkata, “Wahai penduduk neraka!” Maka penduduk nerakapun menoleh dan melihat. Lalu penyeru itu berkata, “Kalian mengenali ini?” Mereka menjawab, “Ya, itu adalah kematian.” Mereka seluruhnya melihatnya. Kemudian (kematian yang berbentuk domba tersebut) disembelih lalu dikatakan: “Wahai penduduk jannah, kekal… tidak ada lagi kematian. Wahai penduduk neraka, kekal… tidak ada lagi kematian.” [HR. Bukhori]